Kenaikan tertinggi terjadi pada Tanaman Perkebunan Rakyat yang mencapai 2,05 persen. Setelah itu, NTP Tanaman Pangan naik 1,05 persen, Perikanan 1,00 persen, dan Peternakan 0,06 persen.
“Empat dari lima subsektor pertanian mengalami kenaikan NTP, yaitu Tanaman Perkebunan Rakyat naik 2,05 persen, Perikanan naik 1,00 persen, Tanaman Pangan naik 1,05 persen, dan Peternakan naik 0,06 persen,” ujar Matamira.
Sementara itu, Subsektor Hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 0,26 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh turunnya indeks harga pada kelompok sayur-sayuran dan buah-buahan.
Dari sisi konsumsi, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada Agustus 2026 turun 0,13 persen. Penurunan terutama dipengaruhi turunnya harga bawang merah, sawi hijau dan tomat sayur, meski sebagian tertahan oleh kenaikan harga beras dan tarif angkutan.
Tak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga meningkat 0,88 persen menjadi 105,92. Matamira mengatakan kondisi tersebut mencerminkan membaiknya kemampuan produksi petani dibandingkan biaya produksinya.
“Kenaikan tertinggi pada NTUP terjadi pada Subsektor Perikanan Tangkap sebesar 3,52 persen,” jelas Matamira.
Dengan NTP yang kembali menguat ke level 101,29 dan NTUP mencapai 105,92, perkembangan Agustus memberikan gambaran positif terhadap kondisi usaha rumah tangga pertanian NTT. Tantangannya kini adalah menjaga kenaikan harga yang diterima petani tetap mampu mengimbangi perkembangan biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











