ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pertanian Sumbang 30 Persen Ekonomi NTT, BPS Diminta Jangan Berhenti di Angka

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
PPN
Menteri PPN dan Gubernur NTT Kunjungi BPS NTT ( Ist )

KUPANG, FokusNusaTenggara.com — Sektor pertanian masih menjadi salah satu mesin utama ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai sekitar 28 hingga 30 persen.

Namun, besarnya kontribusi itu sekaligus menyimpan pekerjaan besar: bagaimana angka pertumbuhan pertanian benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan petani.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy saat bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengunjungi Kantor BPS Provinsi NTT, Senin (14/9/2026).

Baca Juga :  Wisuda Unwira Kupang, Gubernur Minta Lulusan Aktualisasikan Ilmu Untuk Solusi Pembangunan

Dalam pertemuan tersebut, BPS NTT memaparkan sejumlah indikator pembangunan daerah, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, struktur ekonomi, pertanian, pendidikan, industri pengolahan hingga kemiskinan.

Rachmat menegaskan BPS memiliki posisi penting karena data yang dihasilkan harus mampu membantu pemerintah melihat persoalan pembangunan secara lebih nyata, bukan sekadar menjadi deretan angka dalam laporan.

Baca Juga :  Gubernur Melki Laka Lena Minta Optimalkan Pemanfaatan KUR di NTT

Ia menyebut BPS sebagai “meteran pembangunan”. Menurutnya, pemerintah membutuhkan alat ukur yang akurat untuk mengetahui capaian pembangunan sekaligus menentukan kebijakan berikutnya.

“BPS sebagai penyedia data pembangunan tidak hanya mencatat kondisi daerah, tetapi juga mampu memberikan makna terhadap angka-angka tersebut sehingga dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan,” kata Rachmat.

Rachmat melihat peluang besar NTT berada pada sektor pertanian. Menurutnya, ketika produktivitas pertanian meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga dapat menggerakkan perdagangan, transportasi, pengolahan dan sektor ekonomi lainnya.

Baca Juga :  Sambut HUT Ke-80 RI, Pemprov NTT Gelar Kirab Budaya

Ia memberikan contoh produktivitas jagung NTT yang berada di kisaran 2,6 ton per hektare. Jika produktivitas tersebut dapat didorong hingga 4 ton per hektare, maka terjadi peningkatan produksi yang cukup besar dan berpotensi memberi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

  • Bagikan