Fasilitas JIAT juga didukung rumah pompa, sumur bor, panel tenaga surya serta jaringan listrik PLN sehingga operasional penyediaan air dapat berjalan lebih optimal.
Ketua Kelompok Tani Long Stone, Mikael, mengakui keberadaan JIAT membawa perubahan nyata terhadap aktivitas bertani di wilayahnya. Pasokan air yang tersedia sepanjang tahun membuat petani mampu meningkatkan intensitas tanam.
“Sebelumnya kami hanya panen padi satu kali dalam setahun. Sekarang sudah bisa dua kali panen dan bahkan sedang mempersiapkan musim tanam berikutnya karena air tersedia terus,” ungkap Mikael.
Menurutnya, air dari sumur bor juga dimanfaatkan untuk mengembangkan lahan hortikultura. Tanaman seperti sawi, cabai rawit dan tomat kini menjadi sumber tambahan pendapatan bagi anggota kelompok tani.
“Cabai misalnya, setiap minggu kami bisa memanen sekitar 60 kilogram. Selama satu musim hasilnya dipasarkan ke sejumlah pasar di Kota Kupang. Ini sangat membantu meningkatkan penghasilan petani,” katanya.
Mikael berharap dukungan pemerintah melalui Program JIAT terus berlanjut sehingga areal tanam yang saat ini baru dimanfaatkan kurang dari dua hektare dari total sekitar tujuh hektare dapat dikembangkan secara maksimal.
Menurutnya, semakin luas lahan yang terairi, semakin besar pula kontribusi petani terhadap penguatan ketahanan pangan di Kota Kupang maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











