“Kami sedih lihat anak-anak harus berhenti belajar hanya karena atap bocor atau air masuk ke kelas,” ujar Suryanto.
Tapi semangat tak padam. Warga bahu-membahu membangun gedung baru secara swadaya. Mereka pun menunjuk Aiptu Suryanto sebagai ketua pembangunan. Perjuangan belum selesai. Sekolah itu belum terdaftar resmi. Murid-murid angkatan pertama bahkan harus menumpang ujian di Sumba Barat.
Hari ini, mimpi itu berdiri tegak. SMPTK Hanggaroru kini memiliki gedung sendiri, dengan 98 murid dan 9 guru. Sebuah pencapaian luar biasa dari komunitas kecil yang menolak menyerah pada keterbatasan.
“Awalnya kami pesimis” kenang Lili Kondamara, salah satu tokoh masyarakat. “Tapi nyatanya sekarang anak-anak kami bisa terus sekolah. Kami sangat bersyukur.”
Apa yang dilakukan Aiptu Suryanto membuktikan bahwa perubahan tak harus dimulai dari kekuasaan besar. Cukup satu hati yang peduli, satu langkah kecil yang konsisten dan perubahan pun bisa terjadi
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











