Dalam cerpen itu diceritakan, ada ratusan suanggi dari Alor yang mengikuti Kongres Internasional Suanggi di China tahun 2017. Kongres tahun 2017 bertepatan dengan peringatan 100 abad keberadaan suanggi di dunia ini.
Mereka berasal dari berbagai suku besar suanggi di Alor, antara lain dari suku Pantar, Kolana, Pura, Alor Kecil, Adang, Kabola, Abui, Mataru, Kui, Klon. dan Habolat.
Sebelum ke China, para suanggi Alor ini berkumpul dan konsolidasi di Kupang, tepatnya di Bakunase, Kupang Barat. Di Bakunase itu kebetulan ada tempat kawasan hutan lebat yang penuh dengan pepohonan rimbun dan dianggap angker oleh masyarakat setempat.
Di tempat ini mereka sepakati beberapa hal penting sesuai dengan tema kongres. Adapun tema kongres tahun 2017 itu tentang bagaimana membangun relasi dengan manusia.
Dari Alor ke Kupang mereka berangkat tetap seperti manusia biasa. Ada yang ikut kapal laut, ada yang ikut pesawat terbang.
Dalam cerpen Pellondou itu diceritakan setelah mereka pulang dari Kongres China mereka berkumpul kembali di Bakunase, Kupang Barat. Dari Bakunase mereka sepakat untuk kembali ke Alor dengan cara terbang.
Untuk bisa terbang mereka berubah bentuk menjadi bola lampu pijar sebesar biji kelereng. Karena rombongan besar, mereka berangkat berurutan setiap lima menit waktu suanggi atau setiap lima jam waktu manusia.
Pada waktu pulang ke Alor pada malam dinihari itulah kepala rombongan suanggi Alor salah landing di Kalabahi, Ibukota Kabupaten Alor, Dari langit dia melihat teman-temannya yang landing duluan dalam bentuk kerdipan bola lampu pijar. Dia turun mengikuti rombongan terdahulu itu.
Ternyata dia salah turun. Dia turun di kerdipan lampu pijar di tower Telkomsel di belakang Kantor Bupati Alor. Maka tersangkutlah dia di situ dan jatuh ke tanah, pas menjelang pagi.
Dia ditangkap masyarakat setempat. Sebagian besar orang kenal dia sebagai suanggi kaliber di Kalabahi. Dibawa ke Kantor Polisi. Dia dipukul, diinjak, dibacok, ditusuk, dan dirajam. Namun, suanggi kepala itu biasa saja. Tidak ada perubahan apa-apa di wajah dan badannya. Kemudian dia disel dalam sel tahanan yang dikunci dari luar.
Setelah diperiksa kemudian, suanggi itu sudah tidak ada lagi di dalam tahanan. Setelah dicek di rumahnya, dia sedang dipeluk istrinya sambil menangis. Istrinya menangis bahagia karena suaminya masih hidup. Istrinya mengira suaminya sudah mati dibunuh orang banyak di Kantor Polisi, sesuai dengan cerita orang-orang yang datang melapor ke rumahnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











