ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kota Kupang sebagai Rumah Bersama untuk ’Semua’

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Opini : Miky Oktovianus Smaut Natun, ST. M.Si.IAP (ASN di Pemerintah Kota Kupang)

KUPANG, fokusnusatenggara.com — Kota Kupang sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kota terbesar di provinsi ini, dihuni oleh berbagai suku bangsa. Suku-suku yang jumlahnya signifikan di Kota Kupang antara lain suku Timor, Rote, Sabu, Tionghoa, Flores, serta sebagian kecil pendatang dari Bugis, Jawa, Toraja, Batak, dan Arab. Dalam proses pembentukannya, wilayah Kota Kupang berkembang dari kampung-kampung menjadi desa, kemudian menjadi kelurahan yang tersebar membentuk perluasan ke arah timur dan barat kota.

Dalam buku berjudul The Timor Problem sebagaimana dikutip oleh Parera (1994:44) Ormeling menyebut bahwa orang Dawan merupakan suku yang dominan di Kota Kupang. Ia menggambarkan mereka sebagai “The Timorese Proper” atau Orang Timor Khusus. Kekhasan orang Dawan terlihat dari ciri ragawi mereka yang merupakan percampuran unsur Melanesia dan Negrito, sehingga seseorang yang berada di tengah-tengah masyarakat Dawan tidak merasa berada di lingkungan suku Melayu.

Baca Juga :  Hari Bhayangkara ke-79 : Polda NTT Anjangsana Sambangi Purnawirawan dan Warakawuri

Namun demikian, karakter khas orang Dawan bukan hanya tampak secara fisik. Jiwa budaya gotong royong yang kuat dalam masyarakat Dawan menciptakan hubungan kekerabatan yang terbuka, sehingga nilai-nilai ini sangat mempengaruhi pola interaksi sosial di Kota Kupang. Dalam praktik kehidupan sosial masyarakat Dawan, gotong royong menjadi motif dasar yang mengilhami setiap bentuk kerja sama. Konsep “bekerja sama sehati-sepikiran” bertujuan mafiti/manpenen, yakni saling meringankan beban. Penekanan kerja sama ini berlandaskan pada nilai sosial kemanusiaan, bukan nilai sosial ekonomi atau upah.

Melalui praktik gotong royong inilah tercipta suasana sosial yang inklusif dan budaya yang terbuka bagi semua pendatang yang menetap di Kota Kupang.

Nilai ini kemudian menjadi salah satu fondasi kuat yang membentuk karakter Kota Kupang sebagai kota yang majemuk, rukun, dan toleran.
Semangat keterbukaan ini telah tumbuh sejak terbentuknya kawasan Kota Tua Kupang, yang berawal dari kedatangan bangsa Portugis dan Belanda pada awal abad ke-16 untuk berdagang. Kehadiran mereka membuka arus kedatangan pendatang dari berbagai wilayah, seperti Cina, Rote, Sabu, Flores, dan lainnya. Seiring perkembangan sejarah tersebut, pengamatan lapangan menunjukkan bahwa objek-objek bersejarah di Kupang saat yang majemuk dan rukun hal ini didominasi oleh peninggalan kolonial Belanda pada masa penjajah berupa Gereja Kota Kupang, Gereja Katedral Kupang, Masjid Tua Airmata dan Klenteng Tua Kel Lay.

Baca Juga :  Kota Kupang Terapkan Pembangunan Tembok Penahan Berbasis Waterfront City

Dengan demikian, wilayah Kota Tua Kupang merupakan simbol nyata keberagaman yang telah hadir sejak masuknya bangsa Portugis dan Belanda. Pola persebaran penduduk di wilayah Kota Kupang pada umumnya menunjukkan bahwa masyarakat mayoritas berasal dari suku Dawan (juga dikenal sebagai suku Atoni), yang menempati sebagian besar wilayah Pulau Timor bagian Barat. Selain suku Dawan, terdapat juga suku Helong yang tinggal di wilayah-wilayah yang berbatasan di bagian Barat Daya Kota Kupang, sebagai salah satu kelompok etnis asli yang memiliki sejarah panjang di daerah ini.

Baca Juga :  Bertemu Paus Fransiskus, GP Ansor Sampaikan Dokumen Deklarasi Islam Untuk Kemanusiaan

Di samping kedua suku tersebut, Kota Kupang juga dihuni oleh suku-suku pendatang seperti Sabu, Rote, Cina, Arab, dan Bugis, yang membawa bahasa, budaya, dan agama masing-masing. Namun, semua kelompok etnis tersebut hidup bersama dalam satu ruang sosial yang sama rumah bersama Kota Kupang mewujudkan kerukunan, keterbukaan, dan keberagaman yang menjadi ciri khas kota ini hingga saat ini Pelabuhan Kupang pada awal abad ke-20, Sebagai Pintu Masuk ke Kota Kupang.

  • Bagikan