Kehadiran polisi di tengah situasi tersebut tidak hanya menunjukkan fungsi penegakan hukum, tetapi juga memperlihatkan sisi kemanusiaan dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H mengatakan bahwa Polri selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam menangani potensi konflik di masyarakat.
Menurutnya, kehadiran aparat kepolisian di lokasi kejadian semata-mata untuk menjaga keamanan dan melindungi seluruh masyarakat tanpa berpihak kepada kelompok mana pun.
“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujar Kabidhumas Polda NTT
Ia juga menambahkan bahwa pihak kepolisian telah memberikan imbauan kepada seluruh warga agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik serta mengajak semua pihak untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di wilayah Manggarai.
Peristiwa di Desa Bula menjadi pengingat bahwa di balik seragam yang dikenakan, polisi tidak hanya hadir sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga kedamaian yang berupaya meredam konflik dengan hati nurani.
Di tengah situasi yang nyaris berujung chaos, pendekatan humanis yang ditunjukkan aparat kepolisian menjadi bukti bahwa penyelesaian konflik tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan, tetapi bisa dimulai dari keberanian untuk mengulurkan tangan demi perdamaian
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











