ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gempa Guncang Flores, Gubernur Melki: Pendidikan Tak Boleh Ikut Lumpuh, Anak-anak Harus Kembali Belajar

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
Dar
Gubernur Melki : Pendidikan Pascagempa Flores pasca gempa tidak boleh berhenti ( Ist )

Gubernur Melki kembali menegaskan pentingnya percepatan tersebut dalam rapat koordinasi penanganan dampak gempa sektor pendidikan bersama jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT di Kupang, Rabu (2/9/2026).

“Pendidikan bergerak akan menimbulkan suasana bahwa pemulihan itu terasa. Harus mulai dibuka agar kondisi pemulihan semakin nyata,” tegas Melki.

Ia meminta sekolah yang mengalami kerusakan dan belum dapat digunakan segera memiliki alternatif ruang belajar. Tenda kelas, menurutnya, harus menjadi salah satu kebutuhan prioritas dalam masa tanggap darurat.

“Kita perlu memberikan yang utama, yaitu tenda untuk ruang kelas. Daerah yang membutuhkan tenda harus kita prioritaskan. Kita harus adakan dengan cepat,” ujarnya.

Baca Juga :  Kasus Keracunan Makan Bergizi di SMPN 8 Kupang Ketua PGRI Sam Haning Minta APH Usut Tuntas

Melki juga mendorong penggunaan material lokal seperti bambu dan terpal untuk membangun ruang belajar sementara. Model pembangunan sekolah darurat di Nagekeo dinilai dapat menjadi contoh bagi wilayah lain yang mengalami kerusakan fasilitas pendidikan.

“Gunakan contoh di Nagekeo. Gunakan bambu dan terpal. Ini sangat mendesak,” katanya.

Selain menghidupkan kembali kegiatan belajar, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap kondisi psikologis siswa dan guru. Melki mengingatkan bahwa trauma akibat bencana dapat berlangsung lama sehingga setiap sekolah perlu memiliki mekanisme pendampingan psikososial.

Baca Juga :  Kapolres Sikka  Bantu Alat Tulis dan Perlengkapan Sekolah kepada Siswa SDK Likot Waigete

“Trauma healing ini masih akan terjadi berbulan-bulan. Tiap sekolah perlu ada tim pendampingan. Harus ada kekuatan dari sekolah sendiri, jangan hanya berharap dari luar,” tegasnya.

Menurut Melki, pemulihan pendidikan harus melihat anak dan guru secara utuh. Sekolah bukan hanya tempat mengejar pelajaran, tetapi juga dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk kembali berinteraksi, bermain, belajar dan perlahan bangkit dari trauma.

Baca Juga :  Dinas PUPR NTT Kontrak 139 Paket Pekerjaan dengan Penyedia Jasa, Gubernur NTT Apresiasi

Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT juga mendorong pengaktifan kembali program Jam Belajar Masyarakat sebagai alternatif bagi anak-anak yang belum dapat mengikuti pembelajaran secara normal. Pemulihan pendidikan akan melibatkan pemerintah, sekolah, keluarga, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, komunitas budaya, lembaga adat dan masyarakat.

“Yang kita pulihkan bukan hanya bangunan sekolah. Kita harus memulihkan anak-anak, guru dan seluruh kehidupan pendidikan. Sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman agar anak-anak bisa belajar dan perlahan pulih dari trauma,” pungkas Melki.

 

  • Bagikan