“Bung Karno pernah berkata, ‘Berikan saya 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia’. Artinya, pemuda dibutuhkan sekarang, bukan hanya nanti,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia berharap pemuda GMIT dapat terus menjadi “garam dan terang dunia” yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Ia juga menekankan bahwa kekuatan sejati bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit setiap kali mengalami kegagalan.
Wali Kota turut memberikan ilustrasi tentang makna keberanian dengan menyinggung sosok petinju dunia Muhammad Ali. Menurutnya, keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi kemampuan untuk melangkah dan melampaui rasa takut tersebut.
“Orang berani bukan yang tidak takut, tetapi yang mampu berjalan dan melampaui rasa takutnya,” tambahnya.
Mengakhiri sambutannya, Wali Kota berharap prosesi Jalan Salib ini mampu menumbuhkan semangat baru, memperkuat iman, serta mempererat persaudaraan di tengah masyarakat Kota Kupang.
“Kiranya dari kegiatan ini lahir semangat baru, iman yang semakin hidup, persaudaraan yang semakin erat, dan Kota Kupang yang semakin diberkati. Tuhan memberkati kita semua,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Klasis GMIT Kota Kupang, Pdt. Delviana K. Poych Snae, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa prosesi Jalan Salib merupakan warisan iman yang berharga dari generasi pemuda sebelumnya yang terus dijaga hingga saat ini. Ia menyebut kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi bagian dari panggilan gereja untuk menjadi komunitas misioner yang hadir di tengah dunia sebagai garam dan terang.
Menurutnya, pelaksanaan Jalan Salib memiliki lima makna penting, di antaranya sebagai sarana refleksi teologis di tengah derasnya arus informasi dan dominasi media sosial. Melalui prosesi ini, umat diajak tidak hanya membaca kisah Alkitab, tetapi juga mengalami secara visual penderitaan Kristus, sehingga iman menjadi lebih hidup dan kontekstual. Selain itu, Jalan Salib juga berfungsi sebagai sarana edukasi atau “katekisasi visual” yang membantu jemaat memahami kisah sengsara Kristus dengan lebih mendalam melalui dramatisasi di setiap etape.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa prosesi ini juga menjadi bentuk kesaksian iman di ruang publik, sekaligus wadah membangun persekutuan dan kebersamaan lintas elemen. Di sisi lain, Jalan Salib menjadi momentum transformasi hidup, mengajak umat untuk bertobat, memulihkan diri, serta membangun integritas dan keteladanan di tengah berbagai tantangan kehidupan. Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak, serta dedikasi para pemuda yang berlatih hingga larut malam demi menyukseskan kegiatan ini, seraya berharap damai sejahtera Allah senantiasa memelihara kehidupan umat dalam Kristus.
Prosesi Jalan Salib Ke-X ini dilaksanakan dalam 10 etape yang melintasi sejumlah gereja GMIT di Kota Kupang. Rute prosesi dimulai dari kawasan Taman Nostalgia Kupang, kemudian melewati GMIT Kota Baru, GMIT Pniel Oebobo, GMIT Kefas Oetete, GMIT Koinonia Kupang, GMIT Syalom Kupang, GMIT Kemah Ibadat Airnona, GMIT Rehobot Bakunase, GMIT Hosana Batuplat, dan berakhir di GMIT Pohonitas Manulai II sebagai titik akhir perenungan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











