“Seorang polisi harus mampu menyerap kritik dan keluhan masyarakat, lalu mengolahnya menjadi kebaikan. Seperti pohon yang menyerap polusi dan mengeluarkan udara segar, kita juga harus menerima kritik dengan lapang dada dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan seluruh jajaran untuk menjaga citra kepolisian dengan terus memberikan pelayanan terbaik. Kesalahan satu anggota, menurutnya, dapat menghapus kepercayaan yang telah dibangun oleh ribuan polisi lainnya.
“Ada pepatah, kemarau setahun dihapuskan oleh hujan sehari. Ribuan polisi berbuat baik, tapi satu saja yang melanggar, maka semua usaha kita bisa hancur,” ujarnya mengingatkan.
Harapan Akan Tagar Positif
Kapolda NTT berharap, di masa depan, masyarakat bisa melihat Polri dalam cahaya yang lebih positif.
“Kita ingin melihat tagar seperti #PolriIdolaku, #PolisiKebanggaanku, dan #AkuInginSepertiPolisi. Tapi itu tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksakan. Itu hanya bisa diperoleh dengan kerja keras, kejujuran, dan dedikasi kita kepada masyarakat,” ungkapnya.
Di akhir sambutannya, Kapolda juga menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa bagi anggota Polri dan masyarakat yang menjalankannya.
“Puasa bukan hanya bermanfaat secara kesehatan dan spiritual, tetapi juga meningkatkan kecerdasan. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari bulan suci ini,” tutupnya.
Pernyataan Kapolda NTT menjadi pengingat bagi seluruh anggota kepolisian bahwa kepercayaan publik harus dijaga setiap hari. Kritik yang muncul di media sosial bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk berbenah agar Polri semakin profesional dan dicintai masyarakat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











