12 paket JIAT itu terdiri dari 4 paket pembangunan baru tersebar di 10 titik X Rp 1,5 miliar/titik = Rp 15 miliar.
Sedangkan, untuk rehab 8 paket tersebar di 44 titik X Rp 500 juta/titik = Rp 22 miliar, sebut Djami.
Sepuluh titik pembangunan JIAT baru itu tersebar di Rote 2 titik, Alor 2 titik, Kabupaten Kupang 4 titik, dan Timor Tengah Utara (TTU) 2 titik.
Sementara, 44 titik untuk rehab tersebar di Rote 5 titik, Kabupaten Kupang 10 titik, Timor Tengah Selatan (TTS) 8 titik, Timor Tengah Utara (TTU) 6 titik, Belu 5 titik, Malaka 4 titik, Alor 3 titik, dan Sabu Raijua 3 titik.
Kata Daud, baik pembangunan baru maupun rehab untuk tahap I sudah star dari pertengahan Mei 2025 dan berakhir 31 Desember 2025 semuanya dikerjakan secara sewakelola.
Ini semua, lanjut beliau, untuk mendukung program prioritas Presiden Prabowo di Bidang Ketahanan Pangan.
Seperti diketahui, JIAT adalah sistem irigasi yang memanfaatkan air dari sumber air bawah tanah untuk mengairi lahan pertanian.
Jaringan ini biasanya terdiri dari sumur bor, pompa air, dan saluran distribusi untuk menyalurkan air ke lahan pertanian.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











