ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dari Tapal Batas RI-Timor Leste, Suster ADM Ponu Rajut Mimpi Besar Pendidikan dan Perdamaian

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
Pon
Dari Ponu untuk Masa Depan Timor, Suster ADM Satukan Gereja, Pemerintah dan Pendidikan ( Ist )

TTU, fokusNusaTenggara.com  — Di sebuah wilayah yang berada di tapal batas Indonesia dan Timor Leste, ketika jarak geografis kerap dipandang sebagai keterbatasan, sekelompok perempuan religius justru memilih menanam mimpi besar: membangun pendidikan yang kuat, profesional dan mampu menjadi jalan menuju perdamaian.

Mimpi itu dirajut Komunitas Suster-Suster Amal Darah Maha-Kudus (ADM) Ponu, Regio Timor bersama Yayasan Lentera Amal Kasih melalui Lokakarya Penguatan Tata Kelola dan Pelayanan Yayasan Lentera Amal Kasih di kompleks Taman Seminarium Seraphine Ponu, Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Jumat (28/8).

Lokakarya tersebut bukan sekadar forum pelatihan. Dari Ponu, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan Gereja, pemerintah, yayasan, pendidik dan masyarakat dalam satu gagasan besar: pendidikan di wilayah perbatasan harus dibangun dengan visi, tata kelola dan sumber daya manusia yang kuat.

Baca Juga :  Polda NTT Salurkan Bantuan Pendidikan dan Olahraga untuk Siswa Kurang Mampu di MI Al-Anshor Alak

Selama bertahun-tahun, masyarakat Ponu yang hidup di kawasan tapal batas RI-Timor Leste mendambakan penguatan kapasitas SDM dan lembaga pendidikan. Kerinduan itu kini mulai dijawab dengan menghadirkan ruang belajar mengenai kepemimpinan, organisasi dan tata kelola pendidikan yang lebih modern.

Ketua Yayasan Lentera Amal Kasih, Sr Brigida Fernandez, ADM, mengungkapkan bahwa lokakarya tersebut pada awalnya hanya dirancang sebagai pembekalan internal bagi komunitas ADM mengenai tata kelola yayasan.

Namun, dalam proses persiapannya, muncul kesadaran bahwa pengetahuan tersebut terlalu penting jika hanya disimpan untuk kalangan internal. Karena itu, ruang pembelajaran diperluas dan dibuka bagi para pemangku kepentingan pendidikan di Ponu.

Baca Juga :  Imam Wahyudi : Soal Kemerdekaan Pers, Indonesia Kalah Dari Brunai

“Namun kami merasa bahwa materi ini sangat baik untuk pembelajaran yang lebih luas di Ponu. Baik untuk para pengurus yayasan pendidikan lainnya, para guru, pastor, aparat pemerintahan kecamatan, kepala desa, pelaku pendidikan, dan para stakeholder. Maka tema besar ini menjadi sangat penting bagi kita bersama,” ujar Sr Brigida.

Gagasan tersebut mendapat sambutan dari berbagai elemen. Para pengurus yayasan pendidikan, guru, pendidik, pastor paroki, aparatur pemerintah kecamatan hingga kepala desa hadir dalam kegiatan yang berlangsung di wilayah perbatasan tersebut.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa membangun pendidikan di daerah perbatasan bukan pekerjaan satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi dan kesamaan visi agar sekolah dan lembaga pendidikan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi mampu melahirkan generasi yang memiliki daya saing sekaligus berakar pada nilai budaya dan kemanusiaan.

Baca Juga :  BI Ajarkan Peran Digitalisasi Ekonomi Di SMAK Giovani

Dukungan juga datang dari Keuskupan Atambua. Sekretaris Uskup Keuskupan Atambua, RD Lusius Resanualto, Pr, hadir dan menyampaikan pesan Uskup Atambua, Mgr Dr Dominikus Saku, Pr, mengenai pentingnya karya pendidikan di wilayah tapal batas RI-Timor Leste.

“Bapak Uskup sangat mendukung pengembangan pendidikan di Ponu. Semoga karya pendidikan dan lokakarya ini memberikan cahaya terang bagi seluruh masyarakat di sana,” ujar Pastor Lusius menyampaikan pesan resmi Keuskupan Atambua.

  • Bagikan