Pada 13 September 2021, kelompok bersenjata pimpinan Lamek Taplo menyerang pos militer dan polisi Indonesia di Kiwirok, Pegunungan Bintang, dekat perbatasan dengan Papua Nugini.
Ini puncak dari ketegangan antara kelompok Lamek Taplo dari Kiwirok dengan pihak Indonesia. Baku tembak seharian penuh mengakibatkan tewasnya seorang militan Papua dan luka-luka seorang tentara Indonesia.
Massa juga membakar puluhan properti dan fasilitas umum di Kiwirok serta Okyop, termasuk sejumlah rumah, beberapa kantor pemerintah, delapan sekolah, dua klinik, satu rumah sakit, satu bank dan Pasar Kiwirok.
Militan Papua juga menyerang Rumah Sakit Kiwirok, membakar rumah sakit dan asramanya serta dua klinik kecil. Mereka diduga memukuli tiga perawat perempuan dan dua perawat laki-laki. Jenazah perawat Gabriela Meilani ditemukan dua hari kemudian.
Kelompok TPNPB mengatakan, pasukannya hanya menyerang pos keamanan serta membantu ‘mengamankan perawat Gerald Sokoy’, yang melarikan diri selama serangan dan dijemput oleh pemerintah setempat dua minggu setelah serangan dan kembali ke rumah.
Serangan tersebut membuat pihak Indonesia melancarkan serangan udara, termasuk dengan helikopter dan drone, terhadap Kiwirok. Pada 10 Oktober, militer Indonesia mengerahkan helikopter Angkatan Udara lalu menjatuhkan 14 mortir buatan Serbia di Kiwirok. Panglima Indonesia di Papua Mayjen Yogo Triyono mengaku, pengeboman tersebut namun membantah bahwa bom diarahkan ke masyarakat sipil.
Menurut organisasi HAM setempat, sekitar 1.000 keluarga telah melarikan diri dari Kiwirok ke Oksibil, kota Kabupaten Pegunungan Bintang. Diperkirakan 180 keluarga telah melarikan diri melintasi perbatasan ke Papua Nugini. Banyak yang kekurangan makanan, tempat tinggal, dan bantuan medis.
Pada 25 Oktober, militan menembak mati seorang polisi Indonesia dalam baku tembak di Kiwirok. Yogo menegaskan, Pemerintah Indonesia perlu melakukan ‘dialog politik’ untuk menyelesaikan masalah keamanan di Papua. Ia menambahkan, prajuritnya juga mulai ‘lelah dengan baku tembak’.
Kedua wartawan muda tersebut kelahiran Sydney. Saat ini Kristo tengah merampungkan studi di University of Sydney. Sedang Kristen, jurnalis berusia 25 tahun, adalah wartawan video jebolan Torrens University, Australia.
Penghargaan Oktovianus Pogau
Oktovianus Pogau seorang jurnalis putra asli Papua. Pogau lahir di Sugapa tahun 1992. Pogau meninggal di Jayapura 31 Januari 2016 dalam usia yang menyentuh angka 23 tahun. Penghargaan ini diberikan setiap tahun guna mengenang keberanian Pogau. Suara Papua juga terlibat dalam pembuatan penghargaan pada 2017 namun penilaian dan pengumuman dilakukan Yayasan Pantau.
Pada Oktober 2011, Pogau melaporkan kekerasan terhadap ratusan orang asli Papua ketika berlangsung Kongres Papua III di Jayapura. Ia merekam suara tembakan.
Tiga orang Papua meninggal dan lima orang dipenjara dengan vonis makar. Pogau gelisah karena tak banyak media Indonesia memberitakan kasus pelanggaran tersebut sehingga mendorongnya mendirikan Suara Papua pada 10 Desember 2011.
“Saya bertemu Octo pertama kali di Jogja tahun 2008 saat dia diundang oleh organisasi mahasiswa di Jogja sebagai pembicara dalam sebuah seminar,” kata Yuliana, jurnalis saat ini menjabat redaktur Tabloid Jubi di Jayapura.
Yuliana Lantipo mengatakan, waktu itu Pogau masih siswa SMA tapi sudah jadi pembicara dimana-mana. Berbagai artikelnya juga dipublikasi di beberapa media. “Saya lihat dia (Pogau) anak muda pemberani dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Keberanian Kristo dan Kirsten mengingatkan saya pada sosok Octo,” kata Yuliana Lantipo.
Kristo dan Kirsten sesudah wawancara dengan Lamek Taplo dari TPNPB dan Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom yang menemani kedua wartawan Australia itu, menyeberang dari PNG ke Papua Barat pada September 2024.
Kristo dan Kirsten berada di Pegunungan Bintang, berjalan kaki melintasi perbatasan PNG dan Indonesia, memilih tak melamar visa wartawan dari Indonesia karena pembatasan yang sangat sulit dari Pemerintah Indonesia buat wartawan asing masuk ke Papua Barat
Juri Penghargaan Pogau terdiri dari Andreas Harsono (Jakarta), Alexander Mering (Pontianak), Coen Husain Pontoh (New York), Made Ali (Pekanbaru), dan Yuliana Lantipo (Jayapura). Yayasan Pantau merupakan sebuah lembaga yang gigih mendorong perbaikan mutu jurnalisme di Indonesia melalui program pelatihan wartawan, konsultan media, riset, penerbitan, serta diskusi terbatas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











