“Kalau hujan turun di hulu, seperti di wilayah TTU atau TTS, hanya butuh beberapa jam saja untuk air sampai ke Malaka. Di situlah bahayanya. Kalau kita tidak punya hutan yang cukup sebagai daerah resapan, maka banjir akan sulit dicegah,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanaman pohon bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal ekonomi dan ketahanan pangan.
“Kalau tanaman ini hidup, maka ekonomi keluarga juga bisa ikut tumbuh. Apalagi kalau yang ditanam adalah pohon buah-buahan, bisa menjadi sumber pangan bergizi dan tambahan pendapatan,” tambahnya.
BPDAS Benain Noelmina berkomitmen untuk mendukung gerakan PKK TTU dengan menyalurkan berbagai jenis bibit, termasuk tanaman buah okulasi, tanaman keras, serta pohon-pohon untuk penghijauan kawasan permukiman.
“Kami akan registrasikan bantuan bibit ke PKK. Ada bibit buah-buahan, tanaman peneduh untuk tata kota, juga tanaman kayu. Penanamannya kami dorong dilakukan oleh rumah tangga, supaya perawatannya lebih intensif. Kapan pun bisa ditanam, asal disiram dan dirawat dengan baik,” terang Kludolfus.
Ia berharap, gerakan menanam ini bisa berkembang menjadi budaya masyarakat NTT.
“Kegiatan ini jangan hanya sekali. Kita ingin menjadikan menanam sebagai kebiasaan, sebagai budaya. Menanam bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk menyelamatkan generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Data dari BPDAS menunjukkan, wilayah DAS Benain-Noelmina mencakup 41% di Kabupaten TTU, 38% di Kabupaten TTS, dan sisanya tersebar di Malaka dan wilayah sekitarnya. Ini menjadikan TTU sebagai titik strategis dalam pemulihan kawasan hulu dan pengendalian banjir di wilayah hilir.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











