Setelah tiba di Pantai Kuce, prosesi dilanjutkan dengan perarakan darat menuju Gereja Katedral Larantuka. Dalam arak-arakan tersebut, Patung Tuan Ma atau Bunda Maria serta Patung Tuan Ana atau Yesus diantar oleh ribuan umat untuk mengikuti ibadat Jumat Agung.
Pada malam hari, sekitar pukul 19.00 Wita, rangkaian prosesi kembali dilanjutkan dengan perarakan keliling kota sejauh kurang lebih tiga kilometer. Prosesi malam ini dimulai dari gerbang Gereja Katedral Larantuka dan melewati delapan armida atau titik perhentian doa.
Dalam prosesi malam, patung Tuan Ma dan Tuan Ana diarak mengelilingi kota, diiringi doa dan nyanyian para peziarah. Suasana hening dan sakral mewarnai seluruh rangkaian kegiatan.
Tradisi Semana Santa di Larantuka telah berlangsung secara turun-temurun sejak masa pengaruh Portugis di wilayah tersebut. Prosesi ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Selain sebagai bentuk peringatan wafatnya Yesus Kristus, prosesi ini juga mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat pesisir dengan laut sebagai bagian dari kehidupan dan ekspresi spiritual mereka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











