ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kota Kupang Menjadi Simbol Toleransi di Hari Waisak

Avatar photo
Reporter : DICKY TAUNAISEditor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi NTT, Artadi Wijaya menjelaskan bahwa peringati Hari Waisak yang dilakukan antara lain puja bakti keliling di rumah umat, kunjungan sosial atau anjangsana, karya bakti dan ziarah ke Taman Makam Pahlawan, serta pemberian dana kepada para Biksu dari luar daerah yang hadir di Kota Kupang.

Baca Juga :  Baksos HUT Bhayangkara ke-80, Ditpolairud Polda NTT Tempuh 147 Kilometer Antar Jenazah Warga Kurang Mampu ke Kuanfatu

Selain itu, umat juga mengambil  air paritta sebagai lambang kesejukan, kedamaian, dan cinta terhadap alam, yang kemudian ditempatkan di vihara sebagai bentuk penghormatan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Puncak perayaan berlangsung di Vihara Pubbaratana Kota Kupang dan diikuti oleh sekitar 50 umat Buddha. Perayaan Hari Waisak juga dihadiri oleh para Biksu dan Samanera yang memberikan pembinaan rohani.

Baca Juga :  Sembilan Nelayan Dievakuasi Usai Alami Mati Mesin di Perairan Pulau Dae

Tema Waisak adalah meningkatkan kesadaran diri dan kebijaksanaan untuk mewujudkan perdamaian.

Berdasarkan data Statistik, umat Buddha di Kota Kupang berjumlah sekitar 300 jiwa yang tersebar dalam 150 kepala keluarga

  • Bagikan