ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Bhayangkari Daerah NTT Gelar Terapi USEFT di Lapas Perempuan Kupang, Kapolda NTT: Lepaskan Luka, Bangun Harapan

Avatar photo
Editor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Kalapas Perempuan Kelas IIB Kupang, Ibu Dewi Andriani menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan apresiasi kepada Bhayangkari Polda NTT.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian ini. Kami berharap pelatihan ini bisa benar-benar membantu 68 warga binaan dan lebih dari 80 pegawai kami yang mayoritas adalah perempuan, untuk mengelola stres, menyembuhkan trauma, dan mengatasi fobia,”ujar Kalapas.

Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko yang turut meninjau jalannya terapi mengapresiasi penuh kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya kesehatan mental, tidak hanya bagi warga binaan, tapi juga untuk seluruh lapisan masyarakat, termasuk personel kepolisian.

Baca Juga :  Ops Semana Santa Turangga 2026, Ditpolairud Polda NTT Pastikan Armada Laut Siap Pengamanan

“Saya baru saja melakukan pengecekan terhadap kegiatan Bhayangkari Daerah NTT terkait dengan kesehatan mental di Lapas Kupang. Teknik USEFT ini sangat mudah dipraktikkan, hasilnya pun sangat efektif dan permanen dalam merilis emosi negatif,” ujar Kapolda Rudi Darmoko.

Ia menambahkan bahwa teknik ini juga akan diimplementasikan secara lebih luas.

“Kita akan ajarkan teknik ini ke berbagai lapisan masyarakat. Bahkan kita akan segera launching Klinik Bahagia untuk anggota Polri yang mengalami gangguan kesehatan mental. Jika mentalnya sehat, maka kinerjanya dalam melayani masyarakat juga akan meningkat,” jelasnya.

Baca Juga :  Brigjen TNI Hendro Cahyono, Pimpin Tiga Matra Ziarah di TMP Seroja Dili Timor Leste

“Kita tidak ingin ada lagi anggota polisi yang menyimpang, yang tidak disiplin, apalagi yang menyakiti hati rakyat. Jika kita bantu mereka menyembuhkan luka batinnya, maka yang muncul adalah polisi-polisi yang tulus dan humanis,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolda NTT juga menyempatkan diri mengunjungi stan produk UMKM hasil karya warga binaan, seperti tenun khas NTT dan kerajinan tangan. Ia berbincang langsung dengan para pembuatnya dan membeli beberapa produk sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap kemandirian warga binaan.Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara Bhayangkari, kepolisian, dan institusi pemasyarakatan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara mental, khususnya bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan.

Baca Juga :  “MEMAAFKAN”, Tidak Mengubah Masa Lalu, Namun Memperbesar Masa Depan

Dengan pendekatan yang empatik dan humanis, diharapkan stigma terhadap aparat dan masa lalu kelam yang dialami warga binaan dapat perlahan memudar, digantikan dengan harapan, pemulihan, dan semangat baru menuju masa depan yang lebih baik.

  • Bagikan