ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gempa Guncang Flores, Gubernur Melki: Pendidikan Tak Boleh Ikut Lumpuh, Anak-anak Harus Kembali Belajar

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
Dar
Gubernur Melki : Pendidikan Pascagempa Flores pasca gempa tidak boleh berhenti ( Ist )

KUPANG, fokusNusaTenggara.com  —  Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum. Dunia pendidikan ikut terdampak. Ribuan ruang kelas rusak, sekolah tidak dapat digunakan, sementara ratusan ribu siswa, guru dan tenaga kependidikan harus berhadapan dengan situasi darurat.

Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan satu hal: pendidikan tidak boleh ikut berhenti karena bencana. Anak-anak harus kembali belajar, meski untuk sementara harus dilakukan di tenda, ruang darurat maupun tempat lain yang aman.

Dorongan itu disampaikan Melki saat rapat penanganan gempa bumi dan percepatan pemulihan wilayah terdampak yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Posko Penanganan Gempa Bumi Yonif TP 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga :  Dampak Positif Makanan Bergizi Gratis di SMAN 8 Kuppang : Mengurangi Uang Jajan Murid

Di hadapan Presiden Prabowo, Melki secara khusus meminta dukungan pemerintah pusat untuk menyediakan tenda yang dapat digunakan sebagai ruang kelas sementara di wilayah terdampak.

“Untuk kebutuhan pendidikan, kami punya 1.041 satuan pendidikan tingkat SMA, SMK dan SLB se-NTT. Secara khusus untuk Flores, kami minta agar pendidikan di tenda bisa segera digelar. Kami butuh tenda agar pendidikan bisa segera dimulai,” ujar Melki.

Menurut Melki, mengembalikan anak-anak ke lingkungan belajar bukan sekadar persoalan akademik. Aktivitas sekolah juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan psikologis anak setelah mengalami bencana.

Baca Juga :  Harus Kembalikan Kejayaan Sekolah GMIT di NTT

“Karena kalau pendidikan sudah mulai berjalan, ini juga bisa mengurangi traumatis anak-anak,” katanya.

Besarnya dampak gempa terhadap sektor pendidikan tergambar dari data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, mulai dari jenjang PAUD hingga pendidikan kesetaraan.

Dari jumlah tersebut, tercatat 204 PAUD, satu TK, 701 SD, 287 SMP, 116 SMA, 63 SMK, lima SLB serta satu satuan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C. Sebanyak 177.678 siswa dan 21.166 guru serta tenaga kependidikan turut terdampak.

Baca Juga :  Keluarga Merupakan Pendidik Yang Pertama Dan Utama

Kerusakan fisik juga cukup besar. Sedikitnya 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan dan 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi ini membuat pembukaan kembali sekolah secara normal belum dapat dilakukan di sejumlah wilayah.

Namun, proses belajar mulai digerakkan dengan berbagai cara. Sejumlah sekolah memanfaatkan ruang kelas yang masih aman, tenda, ruang darurat hingga tempat terbuka sebagai lokasi pembelajaran sementara.

Di SMA Negeri Maurole, Kabupaten Ende, misalnya, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara terbatas dengan memanfaatkan tenda dan ruang terbuka. Sementara di SMAN 4 Satarmese, Kabupaten Manggarai, pembelajaran menggunakan ruang darurat.

  • Bagikan