Acara dengan temah “Ale deng Beta Menentukan Masa Depan Maluku” ini diisi dengan upacara bendera, pembacaan teks proklamasi, pidato kenegaraan. Kemeriahan perayaan HUT RMS ke 75 ini diwarnai pertunjukan budaya dari Kelompok Tari Djudjaro Maluku dan musik Tifa.
“Kami mau sadarkan apa inti dan maksud dari acara hari ini, sama-sama katong saling bahu membahu menurut tema yang sudah ditentukan. Pemerintah, organisasi politik, dan masyarakat sama-sama punya tanggung jawab untuk Maluku ,” kata Crams Nikijuluw, koordinator pelaksana acara HUT RMS ke-75, dalam siaran langsung eRMSTV2504 seperti dilansir titastory.id.
“Dengan tema ini, bangsa Maluku di Belanda dan di tanah air dipanggil untuk ambil tanggung jawab dan berdiri untuk kebebasan. Ini panggilan untuk tidak hanya duduk diam dan menunggu, tetapi berani mengambil inisiatif,” kata John Wattilete dalam pidato kenegaraannya atas nama Pemerintah RMS.
Warga keturunan Maluku di Belanda menurut John Wattilete sebagai Kepala Negara Republik Maluku Selatan di Pengasingan ini tetap berjuang dengan tekad “bahwa ” Proklamasi 25 April 1950 ” adalah fakta sejarah, bukan sekadar mimpi.
“RMS lahir bukan karena bendera, lagu kebangsaan, atau undang-undang, tetapi karena proklamasi yang terjadi pada 25 April 1950. Selama kita masih berdiri dan tidak menyerah pada kolonialisme Indonesia, RMS akan tetap hidup,” tegas Wattilete ,” tegas John Wattilete.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











