ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : 

WALHI NTT Bongkar Ancaman Krisis Ekologi: Ruang Hidup Warga Makin Terdesak, Investasi Disorot

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
yud
Hari Keadilan Ekologis, WALHI NTT Angkat Alarm dari Tapak: Alam Rusak, Warga yang Menanggung Beban ( Ist )

Karena itu, WALHI NTT meminta pemerintah mengevaluasi investasi dan proyek pembangunan yang berada di kawasan rentan ekologis, termasuk hutan, pesisir, pulau-pulau kecil, sumber air, lahan pertanian serta wilayah masyarakat adat. WALHI juga menuntut partisipasi masyarakat dilakukan secara bermakna, bukan berhenti pada sosialisasi atau formalitas administratif.

Dalam tuntutannya, WALHI NTT juga meminta penghentian kriminalisasi dan intimidasi terhadap masyarakat yang mempertahankan ruang hidupnya. Perlindungan hukum terhadap masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan dan kelompok yang paling terdampak perubahan iklim dinilai perlu diperkuat.

WALHI NTT turut menyoroti pentingnya keterbukaan informasi dalam proyek yang berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Dokumen perizinan, AMDAL, peta lokasi, kajian dampak hingga informasi pengadaan dan penguasaan tanah diminta dapat diakses masyarakat sesuai ketentuan keterbukaan informasi publik.

Baca Juga :  Simanungkalit Tegaskan ! Harbak PU ke-80 Bukan Soal Kemewahan, Tapi Kebersamaan dan Spirit Pelayanan

Pesan tersebut diperkuat melalui berbagai kegiatan Hari Keadilan Ekologis pada 19–20 September 2026 di Flores, Sumba dan Timor. Kegiatan antara lain kampanye publik, aksi penyadaran di Car Free Day Kota Kupang, penanaman mangrove di pesisir Pantai Pamalala Waingapu dan pantai utara Riung, serta diskusi publik dan nonton bareng film di Tugu Keadilan Ekologi, Taman Kota Waingapu.

Baca Juga :  Pesparani Harus Punya Dampak Untuk Kesejahteraan Masyarakat

WALHI NTT menegaskan perjuangan keadilan ekologis tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Mereka mendorong perubahan paradigma pembangunan, dari alam sebagai komoditas menjadi alam sebagai bagian dari komunitas kehidupan, serta memastikan setiap kebijakan hari ini tidak mengorbankan hak generasi yang belum lahir.

“Bumi bukanlah warisan leluhur yang bebas kita habiskan, melainkan titipan generasi mendatang yang harus kita jaga,” menjadi pesan utama WALHI NTT dalam momentum tersebut. Dari kebun, lahan pertanian, hutan adat, pesisir hingga ruang advokasi kebijakan, WALHI menyerukan agar NTT meninggalkan tapak pembangunan yang adil, lestari dan bermartabat

Baca Juga :  Kunjungan Kerja Presiden Jokowi Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

  • Bagikan