Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, dalam rilis yang sama menyatakan kelompoknya mengaku memiliki bukti keterlibatan para korban bersama aparat militer Indonesia.
“Hal tersebut kami lakukan karena kami telah memiliki bukti-bukti yang kuat atas keterlibatan mereka bersama aparat militer Indonesia sehingga mengakibatkan sejumlah pasukan TPNPB gugur,” ujarnya.
Kopitua Heluka juga menyampaikan ancaman kepada masyarakat yang disebut terlibat sebagai agen intelijen aparat Indonesia. Ia menyatakan TPNPB akan mengeksekusi siapa pun yang dianggap bekerja sebagai intelijen militer pemerintah di wilayah konflik Yahukimo.
Selain itu, TPNPB mengklaim bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan Brigpol Fredi Lukas Awes, personel BKO Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, di Yahukimo. “Penembakan tersebut kami siap bertanggung jawab,” kata Kopitua Heluka dalam pernyataannya.
Dalam rilis yang disampaikan Sebby Sambom, TPNPB juga mengancam maskapai penerbangan sipil agar tidak digunakan mengangkut personel maupun logistik militer. Kelompok tersebut menyatakan akan menyerang penerbangan sipil yang dianggap mendukung operasi militer apabila peringatan tersebut tidak diindahkan.
“Jika hal tersebut tidak diindahkan maka kami siap tembak seluruh penerbangan sipil yang memasuki wilayah operasi TPNPB,” demikian pernyataan Sebby Sambom dalam rilis tersebut. TPNPB juga meminta evakuasi personel militer dilakukan menggunakan pesawat atau helikopter militer, bukan pesawat sipil
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











