DENPASAR , FokusNusaTenggara.com — Pengalaman panjang di dunia bisnis membawa Mbah Dragon pada satu kesimpulan penting: bisnis tidak cukup hanya mengejar penjualan dan keuntungan. Kepercayaan pelanggan, solusi yang tepat, serta nilai yang memberi dampak harus menjadi fondasi utama agar bisnis dapat bertumbuh secara berkelanjutan.
Pesan tersebut disampaikan Mbah Dragon saat berbagi pengalaman bersama para pengusaha Kristen dalam seminar “Sales & Marketing in Kingdom Business” di Catholic Centre, Jalan Rambutan, Denpasar. Kegiatan ini diikuti para pengusaha Kristen di bawah naungan Perkantas yang datang dari berbagai kota di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Mbah Dragon mengajak peserta memahami kembali bagaimana sebuah bisnis menemukan nilai unik atau Unique Value Proposition (UVP). Ia menggunakan pendekatan Business Model Canvas dan Value Proposition Canvas untuk menunjukkan pentingnya memahami pelanggan sebelum menciptakan produk maupun strategi pemasaran.
“Jangan mulai dari apa yang ingin kita jual. Mulailah dari siapa customer kita, apa kebutuhannya, apa masalahnya, dan solusi apa yang benar-benar mereka perlukan,” ujar Mbah Dragon.
Menurutnya, pemahaman terhadap pelanggan dapat dilakukan dengan melihat tiga aspek utama, yakni Jobs, Gains dan Pains. Jobs berkaitan dengan kebutuhan atau pekerjaan yang ingin diselesaikan pelanggan, Gains merupakan hasil yang diharapkan, sedangkan Pains adalah masalah maupun hambatan yang mereka hadapi.
Dari pemahaman tersebut, perusahaan kemudian menyusun Value Map melalui produk atau layanan, Gain Creators dan Pain Relievers. Dengan pendekatan itu, produk tidak lagi sekadar menjadi barang yang ingin dijual, tetapi hadir sebagai solusi terhadap persoalan pelanggan.
Untuk memperjelas konsep tersebut, Mbah Dragon membagikan pengalaman profesionalnya melalui Magic Marketing Concept dengan UVP “Low Cost, High Impact.” Konsep tersebut menggambarkan strategi menghasilkan dampak besar dengan biaya yang efisien.
Ia menyebut konsep itu bukan sebatas teori. Pengalaman tersebut pernah diterapkannya ketika memimpin sejumlah cabang Astra Motor dan berhasil mendorong peningkatan profit serta market share secara signifikan.
“Magic Marketing Concept ini bukan sekadar teori. Saya mengalaminya sendiri dalam perjalanan profesional. Ketika kita mampu menemukan kebutuhan customer dan memberikan solusi yang tepat, value akan tercipta dan profit akan mengikuti,” jelasnya.
Mbah Dragon juga mengingatkan peserta agar tidak mencampuradukkan fungsi marketing dan sales. Menurutnya, marketing bertugas membangun ketertarikan pelanggan melalui riset, branding, harga, komunikasi dan berbagai aktivitas pemasaran. Sementara sales bertugas mengubah ketertarikan tersebut menjadi transaksi melalui kemampuan menjual, negosiasi, menangani keberatan hingga closing.
Ia kemudian mengajak peserta mengubah paradigma dari “menjual produk” menjadi
“memberikan customer solution.” Dalam perspektif tersebut, seorang sales tidak cukup hanya menjadi tenaga penjual, tetapi harus berkembang menjadi Business Advisor yang mampu membantu meningkatkan produktivitas pelanggan.
“Sales people have to be customer productivity expert,” kata Mbah Dragon, mengutip pandangan Jeft Immelt, mantan CEO General Electric, sebagaimana dikemukakan dalam buku Selling Is Dead karya Marc T. Miller.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











