ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dulu Belajar di Bawah Pohon, Kini Siswa MI Al-Hidayah Pulau Kukusan Punya Ruang Kelas Layak

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
kuku
Kapolda NTT Resmikan Revitalisasi MI Al-Hidayah, Bawa Harapan Baru bagi Anak-anak Pulau Kukusan ( Ist )

MANGGARAI BARAT, fokusNusaTenggara.com  — Harapan baru hadir bagi anak-anak di Pulau Kukusan, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah sebelumnya sebagian siswa terpaksa belajar di bawah pohon karena keterbatasan ruang kelas, kini mereka dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang yang lebih layak.

Perubahan itu terjadi setelah Direktorat Polairud Polda NTT melakukan revitalisasi dua ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Hidayah pada Juni 2026. Sekolah yang menjadi satu-satunya lembaga pendidikan di Pulau Kukusan itu kini memiliki empat ruang kelas yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Selasa (1/9/2026), Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., datang langsung ke Pulau Kukusan untuk meresmikan hasil revitalisasi tersebut. Kunjungan itu sekaligus dirangkaikan dengan penyerahan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat dan tenaga pendidik terdampak gempa bumi Flores.

Baca Juga :  Ditpolairud Polda NTT Bantu Antisipasi Dini Kendala Teknis Kapal Bermuatan 96 Peziarah Semana Santa

Kapolda NTT didampingi Ketua Bhayangkari Daerah NTT Ny. Vily Rudi Darmoko, Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H., sejumlah Pejabat Utama Polda NTT serta Kapolres Manggarai Barat.

MI Al-Hidayah telah berdiri sejak 2001. Namun, keterbatasan fasilitas membuat proses pendidikan di sekolah tersebut selama bertahun-tahun berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah.

Baca Juga :  Program Quik Win Melki-Johni Cukup Berhasil Ini Capaiannya

Kepala MI Al-Hidayah, Husen, mengatakan sebelum dilakukan revitalisasi, sekolah hanya memiliki dua ruangan yang dapat digunakan untuk belajar. Kondisi itu membuat sebagian siswa harus belajar di ruang terbuka.

“Dulu sebelum direnovasi pada Juni 2026 oleh Direktorat Polairud Polda NTT, hanya dua ruangan yang difungsikan untuk belajar. Lainnya belajar di bawah pohon dan selalu terganggu oleh kambing,” ungkap Husen.

Saat ini, MI Al-Hidayah memiliki 46 siswa dan empat orang tenaga guru. Keterbatasan fasilitas bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi sekolah tersebut. Kualifikasi tenaga pendidik juga masih menjadi tantangan.

“Kualifikasi pendidik di sini masih di bawah standar semua. Di mana saya sebagai kepala madrasah pun sampai hari ini masih kualifikasi non-S-1, namun itu tidak membuat saya merasa bahwa saya tidak bisa, karena memang kalau tidak kami yang berjuang sebagai pendidik di sini, siapa lagi,” ujarnya.

Baca Juga :  Guru Besar UGM Diduga Lecehkan Mahasiswi Sejak 2023, Modusnya Bimbingan Skripsi, Dicopot

Kondisi tersebut mendapat perhatian Kapolda NTT. Rudi mengakui masih terdapat sekolah di wilayah NTT yang membutuhkan perhatian dan dukungan bersama, khususnya sekolah yang berada di wilayah kepulauan dengan keterbatasan akses.

“Kami memohon maaf. Ternyata masih ada sekolah-sekolah yang kondisinya seperti ini,” kata Rudi.

  • Bagikan