ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Wali Kota Kupang Apresiasi GMIT Jadi Pelopor Gereja Ramah Disabilitas di Indonesia

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Menutup sambutannya, Wali Kota mengutip pesan tokoh disabilitas dunia, Helen Keller, bahwa hal paling indah di dunia tidak selalu dapat dilihat atau didengar, tetapi dirasakan dengan hati. “Karena itu, marilah kita terus bergerak bersama dengan hati yang penuh harapan untuk mewujudkan Kota Kupang yang benar-benar ramah dan inklusif bagi semua,” ujarnya penuh semangat.

Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandie, menyampaikan bahwa GMIT bersyukur menjadi sinode pertama di Indonesia yang menggerakkan pelayanan disabilitas secara terstruktur hingga ke tingkat klasis. “PGI memang sudah mendorong gereja-gereja agar serius memperhatikan penyandang disabilitas, tetapi GMIT menjadi yang pertama mewujudkannya secara nyata. Ini bukti bahwa gereja sungguh hadir bagi semua, tanpa kecuali,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam membangun gereja yang inklusif. “Ruang inklusi harus diikuti keberpihakan anggaran. Gereja mesti memberi tempat dan dukungan bagi saudara-saudara disabilitas karena mereka diciptakan dengan keindahan dan martabat yang sama di hadapan Tuhan,” tambahnya.

Baca Juga :  Meriah di Bundaran Tirosa ! Wali Kota Kupang Resmi Buka Karnaval Budaya Perdana

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kupang Yosef Lede turut memberikan apresiasi kepada GMIT dan Pemerintah Kota Kupang atas inisiatif menghadirkan kegiatan yang meneguhkan nilai kesetaraan. “Tugas kita yang sempurna adalah menjadi penolong bagi yang tidak sempurna. Semua punya bagian dan tanggung jawab sesuai perannya agar keadilan dan kesetaraan itu benar-benar dirasakan,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemerintah Kota Kupang Siapkan 200 Vaksin Gratis untuk Peserta IVA Test dan Sadanis

Ia berharap hasil-hasil pembahasan dalam kegiatan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan nyata yang berpihak pada kaum disabilitas. “Pemerintah bertugas untuk mengintervensi agar semua yang dibicarakan tidak berhenti di ruangan ini, tetapi diwujudkan melalui program dan kebijakan yang berpihak,” tegasnya.

Workshop Gereja Ramah Disabilitas ini menjadi momentum penting bagi sinergi antara gereja dan pemerintah dalam membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan berkeadaban—sebuah langkah nyata menuju Kota Kupang yang benar-benar menjadi rumah bersama bagi semua.

  • Bagikan