ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pemkot Kupang Bantu Siswi SMP dan Warga Hadapi Kemiskinan Menstruasi Lewat Program Ina Kasih

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

KUPANG, fokusnusatenggara.com  —   Pemerintah Kota Kupang melalui Program Ina Kasih menyalurkan bantuan pembalut gratis kepada siswi SMPN 11 Kupang serta masyarakat Kelurahan Fatukoa dan Naioni, Kamis (11/12/25). Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis, sebagai bentuk kepedulian terhadap kemiskinan menstruasi yang masih dialami perempuan dari keluarga prasejahtera.

Penyerahan bantuan berlangsung di dua lokasi, yakni Aula SMPN 11 Kupang di Jalan Taebenu, Kelurahan Naimata, serta dilanjutkan di Kantor Lurah Fatukoa. Kegiatan ini turut dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kota Kupang, perwakilan Hers Protex, perwakilan Bank NTT, serta jajaran perangkat daerah terkait seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial Kota Kupang.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Kupang menegaskan bahwa Program Ina Kasih lahir dari keprihatinan terhadap kondisi perempuan dan anak perempuan yang harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pembalut saat menstruasi.

Baca Juga :  Jemput Aspirasi Warga, Penjabat Wali Kota Kupang Berkantor Di Kelurahan

“Banyak perempuan, termasuk adik-adik kita, dihadapkan pada pilihan sulit antara membeli pembalut atau memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Program Ina Kasih hadir untuk meringankan beban tersebut,” ujar Serena.

Ia menjelaskan bahwa bagi keluarga dengan penghasilan di bawah Rp800.000 per bulan, pengeluaran pembalut dapat menjadi beban signifikan. Terlebih, dalam satu keluarga yang memiliki dua hingga empat perempuan usia produktif, biaya pembalut bisa mencapai Rp40.000 hingga Rp80.000 per bulan.

Baca Juga :  17 Ton Ikan Berformalin Masuk Kupang

“Dengan bantuan ini, anggaran tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan dasar seperti beras, sayur, dan ikan,” tambahnya.

Serena juga menekankan bahwa menstruasi tidak boleh menjadi penghalang bagi anak perempuan untuk tetap bersekolah. Menurutnya, akses terhadap pembalut merupakan bagian dari pemenuhan hak dasar, martabat, dan kemanusiaan perempuan.

“Tidak boleh ada lagi anak perempuan yang absen sekolah hanya karena tidak memiliki pembalut. Ini bukan sekadar bantuan, tetapi tentang menjaga martabat perempuan,” tegasnya.

  • Bagikan