ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : 

Cagub SPK Serap Inspirasi dari Kediaman Masa Kecil Mgr. Gabriel Manek

Avatar photo
Reporter : AVRANDO Editor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Bersama Suster Anfrida, SSpS, Mgr. Gabriel Manek kemudian mendirikan Kongregasi Putri Reinha Rosari (PRR) di Larantuka, Flores Timur.

Sepuluh tahun menjadi Uskup Larantuka, Mgr. Gabriel ditugaskan menjadi uskup di Keuskupan Agung Ende.

Lalu Mgr. Gabriel Manek mengundurkan diri dan menjadi Uskup Agung Emeritus karena alasan kesehatan. Mgr. Gabriel kemudian berangkat ke Amerika untuk menjalani pengobatan.

Setelah kondisi kesehatannya membaik, Mgr. Gabriel melayani Komunitas Negro di St. Patrick Ouklans Amerika Serikat. Pada 30 November 1989, Mgr. Gabriel Manek SVD menghembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di Amerika Serikat.

Jenazah Tetap Utuh

Saat merayakan HUT ke-50 Kongregasi, Pimpinan PRR mengajukan permohonan kepada Generalat SVD untuk membawa pulang kerangka jenasah Mgr. Gabriel ke Indonesia.Permohonan itu akhirnya dikabulkan.

Ketika makam Mgr. Gabriel Manek digali, pada 14 April 2007, jenazah dan peti mati yang terkubur selama 17 tahun ternyata masih tetap utuh meskipun tanpa diawetkan. Jenazahnya kemudian dimakamkan kembali di Biara PRR pada 25 April 2007.

Baca Juga :  Hanya untuk Paket SIAGA, Pintu Hati Warga Ritaebang Tertutup bagi Paslon Lain

Hingga kini, jenazah Mgr. Gabriel disemayamkan di Kapela Induk di Biara Pusat Tarekat PRR di Lebao, Larantuka. Makam ini menjadi wisata rohani bagi umat di wilayah Larantuka dan sekitarnya.

Kisah Pelayanan dan Kesaksian Orang Tentangnya

Setelah ditahbiskan menjadi imam, Pastor Gabriel Manek ditugaskan melayani 72.000 umat Katolik dari Flores Timur hingga Alor.

Ia melayani umat hingga ke pelosok, dengan berjalan kaki, menunggang kuda, maupun menyeberangi lautan dengan perahu kecil. Ia sangat peduli terhadap orang kecil dan menderita.

Pada masa penjajahan Jepang (1942-1946) Pastor Gabriel menjadi satu-satunya pastor di seluruh Flores Timur, karena pastor lainnya ditawan oleh tentara Jepang.

Baca Juga :  Jonathan Nubatonis "Balik Badan" dari Melki-Johni, Mundur dari Perindo Dukung SIAGA

Saat itu, banyak penderita kusta diasingkan di Tanjung Naga, Lembata. Mereka dibiarkan tanpa perhatian dan kasih sayang.

Pastor Manek mengunjungi penderita kusta hingga perbuatannya diketahui tentara Jepang, dan akhirnya dia diinterogasi.

Tak hanya itu, perahu yang merupakan alat transportasi menyeberangi pulau pun, dibakar. Tapi hal itu tak memadamkan semangatnya. Kuda adalah salah satu transportasi yang digunakan Pastor Gabriel Manek SVD melayani umat di pelosok.

Selama tinggal di Amerika Serikat, Uskup Manek menjadi gembala bagi suku Indian di Arizona.

“Mgr. Gabriel Manek memperlakukan orang Indian seperti saudaranya sendiri. Bahkan Suku Navajos mengangkat dia menjadi kepala suku mereka,” jelas Ann Dwinnel yang melayani dan merawatnya selama di Amerika, dikutip dari Katolikana.com.

Baca Juga :  Anggota DPR RI NTT Usman Husin Tegaskan: Paket Siaga Akan Memenangkan Pilgub NTT

Cinta yang sangat besar kepada orang kecil membuatnya makin bersemangat melayani hingga terbaring lemah karena sakit.

“Sekali dalam seratus tahun, lahir orang macam dia, karena itu tidak rugi mengenal dia. Dia sungguh seorang yang agung dan seorang santo yang hidup,”  demikian kesaksian Pastor Weber, pastor vikaris Paroki Our Lady of Carmel, di Denver.

Pimpinan umum Serikat Suster Cabrini Shrine bersaksi bahwa Mgr. Gabriel Manek adalah orang saleh. “He is very holy,” ujarnya.

“Seandainya suatu waktu kita merasa sendirian, dikhianati, dan ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, kita hanya perlu membayangkan Yesus saat-saat menderita. Sebab kalau kita ingat pengalaman penderitaan Yesus, kita menjadi kuat,” pesan Mgr. Gabriel Manek kepada para Suster PRR.

  • Bagikan