Sementara Simon Petrus Kamlasi pada kesempatan tersebut mengapresiasi penerimaan secara adat yang dilakukan oleh penunggu dan juru kunci rumah adat Namata. Dia merasa bangga karena dipakaikan pakaian adat Sabu dan disambut dengan adat yang membuatnya terharu.
“Ini sebuah moment yang tidak akan saya lupakan. Saya mendapatkan satu nama yang penuh makna. Diberi dengan tulus dan penuh doa. Jadi ketika bertemu dengan orang Sabu dimana saja, saya akan perkenalkan diri bahwa nama saya Ma Pannu Pe. Nama ini yang akan mengikat saya dengan orang Sabu Raijua sampai kapanpun,” ujarnya.
Simon Petrus Kamlasi mengatakan, Kampung adat Namata harus dijaga dan dipelihara keberadaannya sebagai simbol budaya dan harga diri orang Sabu Raijua. Kedepan, Pemerintah Provinsi di masa kepemimpinan SIAGA akan memberi porsi yang besar bagi Kampung adat dan rumah adat yang saat ini di ambang kepunahan.
“Dalam program kita SIAGA budaya itu ada revitalisasi rumah adat dan ini akan kita terapkan di kampung adat Namata ini. Kita tata dengan baik sarana dan prasarana pendukung supaya wisatawan yang datang bisa nyaman. Pariwisata kita jadikan sebagai prime mover dalam membangun NTT dan kita tata rumah adat dan kampung adat serta situs sejarah yang ada di mana saja di NTT,” ujar SPK.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











