ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Program Quik Win Melki-Johni Cukup Berhasil Ini Capaiannya

Avatar photo
Editor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Salah satu akademisi NTT, Dr. Patrisius Kami, S.Pd., M.Hum., menyampaikan pandangannya bahwa Quick Win bukan sekadar agenda periodik, tetapi merupakan bentuk nyata dari proses rebirokratisasi, pendauran ulang pelayanan publik yang menjadi tanggung jawab negara terhadap warganya.

“Program Quick Win ini bukan hanya soal percepatan, tapi juga penyadaran bahwa negara punya kewajiban mendasar dalam melayani rakyatnya secara adil dan bermartabat,” ungkap Rektor Universitas Aryasatia Deo Muri (UNADRI) Kupang ini.

Ia menilai, semangat dasar reformasi birokrasi sudah mulai digagas sejak era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2004, khususnya dengan lahirnya Grand Design Reformasi Birokrasi 2010–2025 melalui Perpres Nomor 81 Tahun 2010.

Quick Win di bidang pendidikan, menurutnya, merupakan pengejawantahan dari prinsip birokrasi yang bersih, profesional, dan akuntabel. Ia mengapresiasi Pemprov NTT karena telah menempatkan persoalan pendidikan sebagai sektor utama yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Tahun ini, tercatat lebih dari 4.000 siswa asal NTT diterima di berbagai perguruan tinggi nasional, dan ratusan lainnya lolos ke sekolah kedinasan, TNI, dan Polri melalui program pendampingan terstruktur yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi. Ini menjadi capaian konkret dari semangat Quick Win yang berpihak pada peningkatan sumber daya manusia.

Baca Juga :  Santa Clara Juara Lomba Kitab Suci Paroki Hanemasin

Meski begitu, ia menekankan pentingnya keberlanjutan dan evaluasi serius dari program-program tersebut.

“Kita tidak ingin Quick Win hanya jadi program rutinitas yang habis masa jabatan ikut habis pula gaungnya. Program ini harus berdampak langsung pada fondasi kehidupan bangsa, terutama pendidikan karakter keindonesiaan,” jarnya.

Ia menyoroti pentingnya orientasi pembangunan SDM yang tidak sekadar diarahkan untuk menjadi tenaga kerja industri semata, tetapi juga tumbuh sebagai manusia Indonesia seutuhnya yakni ber-Tuhan, adil, beradab, bersatu, penuh kebijaksanaan dan berkeadilan.

“Anak-anak NTT yang kuliah di luar daerah atau di kampus-kampus lokal, semua harus punya semangat yang sama yakni menjadi agen perubahan yang berpihak pada rakyat, bukan sekadar menjadi lulusan yang membanggakan almamater, tetapi membawa makna dan perubahan,” tegasnya.

Ia pun berharap agar program Quick Win bisa terus dikawal dan diperkuat sebagai bagian dari gerakan reformasi birokrasi yang mengakar pada nilai-nilai kearifan lokal, karakter Pancasila, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta menjadi kontribusi nyata dalam pembangunan NTT dari desa hingga ke pusat kota.

Baca Juga :  Menyulam Harapan di Desa Panite Kabupaten Timor Tengah Selatan

“Suatu saat nanti, mereka akan kembali ke tengah masyarakat dan berkata dengan lantang: Ayo Bangun NTT!,” tegasnya.

Bukti Nyata Komitmen Pemerintah

Remalya Eklesiawati Bajoanita Latupeirissa, lulusan SMAN 1 Kupang yang berhasil lolos ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), menyampaikan apresiasi mendalam atas Program Quick Win Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, program ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam mempersiapkan generasi muda NTT untuk menembus perguruan tinggi terbaik di dalam dan luar negeri.

“Program Quick Win ini sangat bagus dan memiliki dampak yang baik karena banyak peserta didik kelas 12 yang didampingi secara akademik maupun non-akademik untuk menggapai cita-cita mereka,” kata Remalya saat dihubungi media ini. Ia menyampaikan bahwa program ini menjadi bentuk perhatian nyata Pemerintah Provinsi NTT terhadap masa depan putra-putri daerah.

Remalya mengikuti salah satu bentuk program Quick Win berupa pembimbingan UTBK yang dilaksanakan langsung di sekolahnya. SMAN 1 Kupang, menurutnya, telah melakukan pemetaan minat siswa terhadap perguruan tinggi negeri maupun swasta, yang kemudian dilaporkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Baca Juga :  Gubernur NTT Dialog Bersama Tripartit, Bahas Perlindungan dan Kesejahteraan Pekerja

“Dalam pembimbingan UTBK itu, dinas sempat memfasilitasi sekolah dengan memberikan buku yang digunakan untuk belajar UTBK. Setelah pengumuman SNBP, juga diadakan simulasi tes UTBK di SMA Negeri 3 Kupang,” jelasnya. Tidak hanya itu, ia juga menyebut adanya sosialisasi dari dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) yang memberikan tips-tips mengerjakan soal UTBK kepada para siswa.

Pendampingan akademik inilah yang sangat dirasakan langsung manfaatnya oleh Remalya. Namun ia juga menggarisbawahi bahwa program ini tidak hanya menyasar siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi juga mereka yang mengikuti seleksi sekolah kedinasan dan TNI/Polri. “Ada juga pendampingan untuk teman-teman yang ingin mengikuti Tes Kedinasan, seperti persiapan fisik, mental, dan karakter,” ungkapnya.

Melalui pernyataannya, Remalya menyampaikan harapan agar program Quick Win tetap dilanjutkan dan diperluas cakupannya ke seluruh wilayah NTT. “Saya berharap agar program ini terus berjalan sehingga banyak putra-putri daerah yang dapat menempuh pendidikan entah itu di dalam NTT maupun di luar NTT,” tutupnya.

  • Bagikan