Syarat lainnya yang disebutkan Sebby Sambom yakni seminggu menjelang hari H pembebesan pilot Philip Mark Mehrtens, semua militer Indonesia harus jauh berada 25 km dari radius, jalur yang dilalui tim yang menjemput.
“ Syarat lainnya menjelang pembebasaan, militer Indonesia harus jauh berada 25 km dari radius, jalur yang dilalui tim yang menjemput ,” kata Sebby.
Dia menyebut rencana pembebasan Philip sempat tertunda karena ada pembunuhan pilot asal Selandia Baru yang lain, Glen Malcolm Conning, pada 5 Agustus lalu.
Berdasarkan keterangan Satgas Damai Cartenz, pilot helikopter itu tewas usai ditembak oleh kelompok TPNPB OPM. Panglima Komando Operasi Gabungan Wilayah Pertahanan atau Pangkogabwilhan III Letnan Jenderal Richard Tampubolon menyebut, kelompok kriminal bersenjata itu melarikan diri ke arah Nduga, Papua Pegunungan, setelah melakukan pembunuhan.
“ Ini tidak benar. Bukan anggota pasukan, TPNPB OPM yang membunuh. Fakta yang kami temukan, pembunuhan pilot asal Selandia Baru itu dilakukan oleh militer Indonesia melalui proksi kelompok barisan merah putih di bawah pimpinan Lenis Kogoya ,” ungkap Sebby Sambom.
Seperti diberitakan sebelumnya, kala itu Philip Mark Mehrtens ditangkap Panglima Kodap III Ndugama Brigjen Egianus Kogeya bersama pasukannya di Lapangan Udara Paro, di Nduga pada 7 Februari 2023 lalu saat mendaratkan pesawat jenis Pilatus Porter PC-6 di lapangan terbang Distrik Paro, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.
Dia menyebutkan tindakan TPNPB OPM dalam penyanderaan dilakukan sudah sesuai standar hukum perang. Kapten pilot Philip selama setahun lebih ini dijadikan tawanan perang. Baca Juga : Penanganan TKI jadi Tanggung jawab Bersama
“Pilot Philip Mark Mehrtens mendaratkan pesawat Susi Air di wilayah perang. Pesawat ini disubsidi oleh Pemerintah Indonesia dengan program Operasi Perintis. Karena itu dia, sudah wajar kami tangkap, sandera dan tawan,” jelas Sebby Sambom.
Sebetulnya sebut Sebby, pembebasan pilot Philips sudah dilakukan beberapa waktu lalu. Namun semua ini terhambat karena Pemerintah Indonesia tidak mampu membuka diri, menerima proposal kami, melakukan negosiasi damai dengan bangsa Papua, untuk membebaskan Kapten Philip.
“ Sementara pemerintah Selandia Baru yakni Menlu Winston Peters menegaskan telah menyediakan jalur, memfasilitasi pihak PBB untuk bisa menjemput pilot Philip di pedalaman Rimba Papua. Namun ini terhambat karena pemerintah Indonesia tidak merespon ,” kata Sebby Sambom.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











