Berdasarkan rencana, kawasan tersebut dilengkapi dengan aula, panggung outdoor, taman bunga bougenvil, lopo bersantai, water mission, kolam renang, kolam pemancingan, hingga akses jalan. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda.
Kolam renang tidak pernah berfungsi karena tidak dilengkapi filter maupun sumber air. Kolam pemancingan tak pernah ada. Bak penampung air yang dibangun justru mengalami kerusakan parah, dengan dinding retak dan pecah. Sebagian besar fasilitas yang dibangun tidak pernah digunakan sejak awal.
Mantan Kajari Lembata ini menilai proyek ini sejak awal dikerjakan tanpa perencanaan yang matang. Meski diklaim sebagai proyek swakelola bersama masyarakat, hasilnya justru menjadi beban daerah.
“Alih-alih memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar, yang ada justru kerugian. Masyarakat tidak mendapatkan apa-apa dari pembangunan ini,” tegasnya.
Kondisi Pantai Teres menambah daftar panjang proyek wisata di NTT yang mangkrak dan tidak memberi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah penyelamatan agar kawasan tersebut tidak semakin terbengkalai
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











