KUPANG, fokusnusatenggara.com — Ribuan umat Hindu di Kota Kupang memadati perempatan Catus Pata Jalan El Tari, tepat di depan Kantor Gubernur NTT, untuk melaksanakan upacara Tawur Kasanga dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, pada hari Rabu 18 Maret 2026.
Prosesi ritual yang berlangsung khidmat sejak pukul 12.00 WITA ini dipimpin langsung oleh Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba, didampingi Ida Rsi Istri Manuaba. Turut serta dalam prosesi tersebut Ida Bhawati I Made Suaba Aryanta, para Jero Gede, serta Jero Mangku Lanang dan Istri.
Usai persembahyangan bersama dan prosesi nunas tirta serta bija, suasana berubah menjadi meriah dengan penampilan berbagai tarian persembahan. Seni tari tersebut dibawakan secara apik oleh Siswi TK Pratama Widyalaya Saraswati dan SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang, Sekolah Pasraman Upanisada Remaja Hindu, perwakilan sanggar seni, hingga ibu-ibu dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Kupang NTT.
Puncak acara yang paling dinantikan warga adalah Pawai Ogoh-ogoh. Sebanyak empat Ogoh-ogoh berukuran besar dan beberapa Ogoh-ogoh cilik diarak mengelilingi rute Jalan El Tari menuju Rumah Jabatan Gubernur NTT dan kembali ke titik semula. Karya seni tersebut berasal dari Umat Hindu yang tergabung dalam paguyuban Warga Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) yaitu Sektor / Tempekan Kuanino TNI, Tempekan Brimob, dan Tempekan Polda NTT, yang semuanya menampilkan wujud Asura (Raksasa) sebagai simbol Bhuta Kala, dan sisi gelap manusia yaitu amarah, dengki, iri hati dan kerakusan.
Rangkaian acara ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kupang, Bapak dr.Christian Widodo, didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kupang Ibu dr.Widya Cahya, Kapolresta Kupang Kota Kombes Pol. Djoko Lestari,S.I.K.,M.M., Dandim 1604 Kupang yang diwakili Danramil 1604-01/Kupang Bapak Mayor Infanteri Hendry Dunant,S.IP, Jajaran Forkompinda Kota Kupang dan Wakil ketua II Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang Bapak I Gusti Ngurah Suarnawa, serta Ketua Panitia Nyepi 2026, I Wayan Gede Astawa.
Hadir juga Ketua PHDI Provinsi NTT I Wayan Darmawa, Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil NTT Jero Gede I Made Suparta, Ketua Permabudhi NTT Indra Effendy, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT Theo Widodo, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang yang diwakili Kepala Tata Usaha, serta Camat dan Lurah sekota Kupang, Mahasiswa-Mahasiswi Hindu PD.KMHDI NTT, Peradah Kupang NTT, Alumni KMHDI NTT, Puskor Hindunesia, ICHI NTT, BDAK, Organisasi dan Lembaga Hindu di Kupang, serta tamu undangan lainnya.
Kegiatan Pawai Ogoh-ogoh berlangsung hingga sore hari pukul 17.30 WITA, antusiasme umat Hindu Kupang dan warga sekitar tetap tinggi menyaksikan iring-iringan budaya tersebut di jantung Kota Kupang sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Acara pawai ogoh-ogoh juga diiringi oleh Sekehe Gong TAT TWAM ASI yang terdiri dari sekehe Sentana Satya Budaya (SSB), dan Sekehe Demen dan sekehe bleganjur Tri Datu.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 PHDI Kota Kupang, I Wayan Gede Astawa,S.Sos.,M.M., menyampaikan bahwa perayaan tahun ini mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju”. Tema ini menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman bangsa.
“Rangkaian kegiatan telah kami mulai sejak awal Maret, yang tidak hanya menyasar internal umat Hindu, tetapi juga melibatkan saudara-saudara kita dari lintas agama,” ujar Wayan Gede Astawa di hadapan jajaran Forkopimda Kota Kupang.
Aksi Sosial dan Simbol Toleransi
Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 PHDI Kota Kupang, I Wayan Gede Astawa melaporkan sejumlah agenda yang telah sukses dilaksanakan, di antaranya:
Pertama yaitu Bakti Sosial: Donor darah di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana pada 1 Maret 2026, yang berhasil mengumpulkan 59 kantong darah.
Kedua Saka Bhoga Sewanam : Aksi toleransi nyata berupa pembagian takjil dan buka puasa bersama umat islam jamaah Masjid Al-Fitrah Kampung Nelayan Oesapa.
Ketiga Ritual Keagamaan: Upacara Melasti yang digelar di Pura Manik Segara Oebananta pada Senin (16/3/2026) sebagai sarana penyucian diri dan alam semesta.
Pawai Ogoh-ogoh di Tengah Libur Panjang
Tepat pada hari ini, Rabu (18/3), sebanyak empat buah Ogoh-ogoh diarak sebagai simbol penetralan kekuatan negatif sebelum umat melaksanakan Catur Brata Penyepian. I Wayan Gede Astawa mengakui adanya tantangan jumlah umat tahun ini, mengingat banyak warga yang memilih pulang ke Bali karena bertepatan dengan libur panjang nasional.
Meski demikian, dukungan dari berbagai pihak tetap mengalir kuat, termasuk bantuan dana dari Pemerintah Kota Kupang, sektor swasta, hingga kontribusi dari Klasis Kota Kupang Timur. “Dukungan dari saudara-saudara umat Kristiani melalui Klasis Kota Kupang Timur, baik secara moril maupun materiil, menunjukkan bahwa toleransi di Kota Kupang telah terjalin sangat harmonis dan menyentuh sisi emosional yang mendalam,” tambahnya.
Pesan Damai Lintas Agama
Menutup laporannya, Wayan Gede Astawa juga memberikan ucapan selamat kepada umat Muslim yang tengah menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Ia berharap momentum Nyepi dan Idul Fitri yang berdekatan ini dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Kota Kupang.
Acara yang berlangsung khidmat dan meriah ini dipusatkan sebagai momentum penyucian diri serta alam semesta sebelum memasuki masa Catur Brata Penyepian.
Wakil Ketua II Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa,SKM.,M.Kes, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ritual Tawur Kesanga Nyepi Tahun Saka 1948/2026 merupakan bagian dari upacara Bhuta Yadnya. Ritual ini bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam (Bhuana Agung) dan diri sendiri (Bhuana Alit).
“Kami bersyukur pelaksanaan Tawur Kesanga yang dipimpin oleh Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba berjalan lancar. Ini adalah upaya menetralkan energi negatif dan memohon kesejahteraan bagi seluruh makhluk,” ujar Gusti Ngurah Suarnawa di hadapan Wali Kota Kupang serta para undangan.
Filosofi Ogoh-Ogoh dan Pesan Perdamaian
Puncak keramaian ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh, karya seni patung raksasa yang melambangkan sifat buruk atau Bhuta Kala. I Gusti Ngurah Suarnawa menjelaskan bahwa pengarakan patung-patung Ogoh-Ogoh berwujud Raksasa ini merupakan simbol pembersihan diri manusia kalau amarah mirip raksasa yaitu berbagai sifat marah, rakus, dan iri hati yang nantinya akan disucikan, agar menjadi sifat dewata dan welas kasih.
Tahun 2026 ini, perayaan Nyepi mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam”, yang berarti Satu Bumi, Satu Keluarga. Tema ini menekankan harmoni nusantara dan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam menjaga persaudaraan dan toleransi di tengah masyarakat.
Persiapan Tapa Brata
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











