Merince pun digantikan oleh Karmen Anastasya dalam daftar finalis Miss Indonesia Papua Pegunungan.
“Posisi saya digantikan dengan hitungan menit karena komentar publik yang pro Palestina,” tulis @kogoya\_merry.
Menanggapi persoalan tersebut, Maiton Gurik salah satu pegiat Anti-diskriminasi di Papua menilai, pemulangan Marince Kogoya ini adalah bentuk diskriminasi.
“Hanya karena simbol-simbol semu,”kata Gurik melalui telpon seluler, Sabtu (28/06/2025).
Menurutnya, jangankan Miss Merince Kogoya, sang jenius pemenang lomba First Step to nobel Prize in Physics, Septinus George Saa, putra asli Papua yang pernah berhasil menemukan rumus fisika dan ia diberi nama ‘George Saa Formula’, yang berurusan dengan pesawat terbang, aerodinamika, daya angkat hingga efesien berat dalam teknologi pembuatan burung besi saja tidak pernah dianggap dan dipakai sebagai aset anak bangsa yang perlu diberdayakan.
“Jadi, diskriminasi yang dibangun kaum fanatik berkedok agama ini, sesungguhnya satu paket dari sebagian orang Indonesia yang selama ini tidak ingin orang Papua maju dari berbagai bidang,”katanya.
Sudah jelas, lanjut dia, orang Papua yang berprestasi dan jenius, pasti tidak diberdayakan bahkan tidak pernah dianggap.
“Jangan kan itu, orang Papua yang selalu melawan rasis dan protes terhadap eksploitasi sumber daya alam secara ilegal saja ditembak mati secara brutal dan keji,”aku Maiton Gurik.
Tak hanya itu, perlawanan terhadap pelanggaran HAM berat juga tidak pernah diberi ruang demokrasi untuk menyampaikan pikiran dan perasaan. Namun, justru moncong senjata yang selalu di perhadapkan orang Papua diatas tanahnya sendiri.
Dari fenomena buruk ini, kata Gurik, masa depan Papua bersama Indonesia itu tidak pernah ada ruang, panggung dan kesempatan.
“Ada itu pun kecil, dengan pra-bayar dan ada persyaratan-nya. Memang muak dan menjengkelkan perlakuan Negara ini (Indonesia) terhadap orang Papua. Teriak toleransi dan keberagaman bergemuruh tetapi kaum anti-toleransi semakin berjamur. Kampanye tentang perbedaan kuat tetapi kaum anti-perbedaan juga tidak hilang. Itu Indonesia hari ini. Indonesia yang dihuni kaum fanatisme semu,”pungkasnya. (satukanindonesia.com)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











