ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : ,

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

Avatar photo
Editor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
Lejap
Lejap Yuliyant Angelomestius, S. Fil

Kita hari ini sedang mengalami krisis gizi moral akibat kelangkaan keteladanan politik. Kita merindukan figur-figur pemimpin yang laksana “roti hidup” di tengah gersangnya nilai kemanusiaan.

Pemimpin yang tidak gentar popularitas atau elektabilitasnya merosot demi menegakkan supremasi hukum yang berkeadilan.

Pemimpin yang rela reputasi politiknya “pecah” di tingkat elit asalkan pemenuhan hak-hak konstitusional warga negara di tingkat akar rumput terjamin penuh.

Sayangnya, komodifikasi politik elektoral hari ini justru lebih sering memproduksi para pemolek citra yang tampak populis di luar, namun hampa akan substansi etika pemerintahan di dalam.

Dalam konteks kebudayaan nusantara, kearifan lokal sebenarnya telah lama mengadopsi filsafat kepemimpinan yang memberi hidup ini.

Nilai-nilai tentang persaudaraan kosmis, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat manusia adalah hukum moral universal yang selaras dengan spirit teologis Tubuh dan Darah Kristus.

Ketika seorang pemimpin dengan dingin mengabaikan jeritan rakyat kecil yang kehilangan akses pelayanan kesehatan atau hak atas tanahnya, ia sedang melakukan penistaan ganda: melanggar konsensus moral budaya sekaligus menafikan esensi spiritualitas keagamaan yang ia peluk.

Secara yuridis-filosofis, konsep keadilan sosial yang termaktub dalam dasar negara kita adalah manifestasi konkret dari kewajiban distribusi kesejahteraan yang merata – sebuah tindakan “membagi-bagikan roti” secara adil dari hulu ke hilir.

John Rawls dalam A Theory of Justice mengingatkan kita bahwa keadilan adalah kebajikan utama dalam setiap institusi sosial.

Melalui prinsip perbedaan (difference principle), Rawls menekankan bahwa ketimpangan sosial dan ekonomi hanya dapat ditoleransi jika dan hanya jika pengaturan tersebut memberikan keuntungan terbesar bagi anggota masyarakat yang paling tidak beruntung.

Baca Juga :  Paket Dubes Dilaporkan Ke Polisi

Jika prinsip Rawlsian ini kita dialogkan dengan esensi homili tentang Roti Pemberi Hidup, maka orientasi utama dari setiap lembar kebijakan publik haruslah dialokasikan bagi kaum Anawim- mereka yang miskin, tersingkir, dan tak punya kuasa untuk melobi elite.

Kebijakan penganggaran negara maupun daerah harus didesain dengan moralitas ekaristis: seberapa banyak post anggaran yang sengaja dipecah dan didistribusikan untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem, menekan angka stunting, dan membebaskan rakyat dari kebodohan?

Jika anggaran publik lebih banyak terserap untuk membiayai fasilitas kemewahan birokrasi dan proyek seremonial yang hampa dampak, maka kekuasaan tersebut telah kehilangan basis legitimasi etisnya.Perayaan ini sekaligus melempar kritik profetik yang menohok bagi para teknokrat yang terbiasa melihat keberhasilan pembangunan hanya dari angka-angka pertumbuhan ekonomi makro yang beku dan impersonal.

Pembangunan sejati, dalam perspektif filsafat kepemimpinan, harus menyentuh kedalaman eksistensial manusia; ia harus memberikan “hidup” dalam arti keberlanjutan eksistensi yang bermartabat bagi generasi hari ini dan masa depan.

Kita tidak bisa mengklaim sebuah kepemimpinan berhasil jika di balik megahnya infastruktur fisik yang dipamerkan, ada hak-hak dasar manusia yang diamputasi secara paksa demi melayani kepentingan pemilik modal.

Oleh karena itu, model kepemimpinan yang ditawarkan oleh filsafat politik ekaristis ini adalah kepemimpinan yang berani terluka (vulnerable leadership). Pemimpin yang siap menanggung risiko politik tertinggi demi membela kebenaran substantif. Pengorbanan Kristus hingga hancur di kayu salib agar manusia memiliki hidup adalah batas terjauh dari konsep etika tanggung jawab (responsibility ethics) yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban.

Baca Juga :  Di Alor, SPK Siap Jadi Orang Pertama yang Bangun Air di Pantar

Ini adalah antitesis dari model

Ketika polarisasi politik dan egoisme sektarian mengancam integrasi kebangsaan kita, kita membutuhkan perekat sosial yang autentik.

Dan perekat itu tidak akan pernah bisa lahir dari instruksi kekuasaan yang bersifat top-down dan represif, melainkan dari keteladanan hidup para pemimpin yang mau berkorban; pemimpin yang secara sadar memosisikan dirinya sebagai bagian dari tubuh sosial masyarakat yang sedang didera penderitaan.

Setiap regulasi, undang-undang, maupun kebijakan yang dilahirkan oleh rahim kekuasaan harus mengandung “darah kehidupan” yang mampu menginjeksikan energi baru bagi peningkatan kualitas pelayanan publik.

Birokrasi tidak boleh dibiarkan membatu menjadi sebuah labirin regulasi yang kaku, dingin, dan mematikan inisiatif-inisiatif kreatif warganya.

Struktur pemerintahan harus hidup, bergerak adaptif, dan dipenuhi oleh empati sosial yang peka, laksana sebuah tubuh yang utuh yang akan langsung merasakan sakit ketika salah satu anggotanya yang paling kecil sekalipun mengalami cedera.

Pada akhirnya, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada Minggu, 7 Juni 2026, bukanlah sekadar penanda seremonial di dalam kalender liturgi tahunan.

Ia adalah sebuah interupsi etis bagi kita semua, terutama bagi mereka yang memegang kendali atas nasib hidup orang banyak.

Baca Juga :  Demokrat: Wamendes Budi Arie Fokus Saja Ke Pandemi, Jangan Sibuk Fitnah Kami

Ini adalah momentum sakral untuk memeriksa kembali isi lambung kekuasaan kita masing-masing: apakah kita sedang sibuk mengenyangkan ego dan kelompok sendiri di atas kelaparan struktural sesama, ataukah kita sedang belajar bertransformasi menjadi roti yang siap dipecah demi menghidupkan kemanusiaan?

Filsafat politik yang sejati tidak akan pernah ditemukan di dalam dinginnya teks-teks akademis yang berdebu atau di dalam kemewahan ruang sidang yang formal. Ia hidup, berdenyut, dan diuji di dalam komitmen moral yang tak tergoyahkan untuk selalu memperlakukan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan semata-mata sebagai sarana atau komoditas politik untuk meraih kekuasaan—sebagaimana yang diperingatkan oleh Immanuel Kant melalui prinsip imperatif kategorisnya. Kekuasaan adalah sebuah mandat moral yang suci, dan kesuciannya hanya akan tetap terjaga sepanjang ia dijalankan dengan spirit pelayanan yang ekaristis.

Menutup refleksi filosofis ini, mari kita tanamkan dalam kesadaran kolektif bahwa esensi tertinggi dari sebuah kepemimpinan bukanlah tentang seberapa lama seorang penguasa mampu bertahan di puncak piramida takhta kekuasaannya

Kekuasaan yang akan abadi dan hidup dalam memori sanubari rakyat adalah kekuasaan yang berani mengosongkan diri, hancur bagai roti yang dipecah-pecah, namun berhasil melahirkan kehidupan, keadilan, dan fajar martabat yang baru bagi banyak orang.

Di sanalah, dan hanya di sanalah, esensi “Roti Pemberi Hidup”  itu mewujud nyata secara radikal di atas bumi pertiwi

  • Bagikan