Dari total 229 personel, sebanyak 93 personel berasal dari Polda NTT, sementara 136 personel lainnya dari Polresta Kupang Kota.
Seluruh personel akan ditempatkan sesuai sektor tugas masing-masing untuk memastikan setiap tahapan kegiatan berlangsung dalam situasi yang aman, tertib, dan kondusif.
Pengamanan dilakukan tidak hanya di lokasi utama kegiatan, tetapi juga mencakup jalur pergerakan tamu negara, akomodasi, hingga titik-titik strategis di wilayah Kota Kupang. Berdasarkan hasil deteksi dan survei lapangan yang dilakukan oleh Ditintelkam Polda NTT, sasaran prioritas pengamanan meliputi personel, lokasi kegiatan, sarana-prasarana, serta potensi kerawanan sosial dan lingkungan.
Polda NTT juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama berlangsungnya kegiatan internasional tersebut.
Berdasarkan hasil deteksi dan survei lapangan yang dilakukan oleh Ditintelkam Polda NTT, sasaran prioritas pengamanan meliputi personel, lokasi kegiatan, sarana-prasarana, serta potensi kerawanan sosial dan lingkungan.
Polda NTT juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama berlangsungnya kegiatan internasional tersebut.
“Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci. Mari tunjukkan kepada dunia bahwa NTT mampu menjadi tuan rumah yang ramah, aman, dan berkelas internasional,” tutur Kombes Henry.
Seperti diberitakan sebelumnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025, sebuah kegiatan kebudayaan yang melibatkan 17 negara yang difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Kegiatan ini digelar di kota Kupang dijadwalkan berlangsung pada 11–13 November 2025 dengan serangkaian acara utama berupa ministerial meeting, pameran, pertunjukan seni budaya, hingga dialog lintas negara.
IPCS 2025 ini akan dihadiri delegasi 17 negara, termasuk Indonesia dan negara-negara Pasifik seperti Papua Nugini, Fiji, Samoa, hingga Niue. Agenda utama meliputi ministerial meeting yang diharapkan menghasilkan deklarasi bersama, panel discussion bertema inovasi budaya dan keberlanjutan, serta pertunjukan seni budaya.
Sebelum puncak acara, dihelat Residensi Budaya pada tanggal 3–10 November 2025. Program ini menghadirkan para pelaku budaya dari 17 negara dengan tiga fokus kegiatan: bamboo craft, musik tradisional, dan tarian tradisional. Para peserta akan berkolaborasi, berlatih, dan menampilkan karya mereka di hadapan publik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











