Lebih lanjut, Eurico menegaskan bahwa kondisi ekonomi masyarakat eks Timor-Timur di NTT masih banyak yang hidup dalam keterbatasan, bahkan bersama masyarakat lokal. “Masih banyak saudara-saudara kami yang hidup susah. Bahkan ada anggapan dari masyarakat bahwa kami juga perlu dibantu. Jadi tudingan itu sangat menyakitkan,” ungkapnya.
FKPTT jelas Eurico meminta aparat kepolisian untuk menelusuri pihak yang menyebarkan informasi tersebut dan menghadirkannya secara terbuka untuk memberikan klarifikasi.
“Permintaan kami sederhana, tolong cari siapa yang menyampaikan itu di media sosial. Ajak datang ke Polda, tanyakan siapa yang dimaksud oknum tersebut. Kalau benar, sebutkan namanya supaya bisa diproses secara hukum,” pintanya.
Ia bahkan menyatakan kesiapan jika dirinya disebut dalam tudingan tersebut untuk diperiksa secara terbuka. “Kalau yang dimaksud itu saya, silakan sebut nama. Aparat bisa periksa, bahkan saya persilakan untuk mengeledah kantor kami. Jangan menggiring opini tanpa dasar,” tegasnya.
Kedatangan massa FKPTT ke Polda NTT ini juga diikuti perwakilan warga dari berbagai daerah seperti Belu, Atambua, Kefamenanu, hingga Soe, sebagai bentuk solidaritas sekaligus upaya menjaga kondusivitas sosial di tengah maraknya isu yang dinilai berpotensi memecah belah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











