ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Usman Husin Soroti Pembatasan Wisata di Taman Nasional Komodo, Dinilai Ancam Ekonomi Rakyat

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Usman mengingatkan agar sistem tersebut benar-benar transparan dan tidak membuka celah spekulasi kuota.

Ia juga menyoroti persoalan wisata bahari, khususnya kapal liveaboard (LOB) yang menjual paket perjalanan berbulan-bulan sebelumnya.

Wisatawan LOB menghabiskan sebagian besar waktu di laut, bukan di jalur trekking darat.

Jika tetap dihitung dalam kuota harian yang sama, maka terjadi distorsi karakteristik wisata.

“Harus ada klasterisasi. Pisahkan kuota darat dan laut. Jangan pukul rata,” katanya.

Baca Juga :  Komisi IV DPR RI Gelar RDPU dengan Jaringan Kapal Rekreasi (JANGKAR), Usman Husin Minta Edaran dari Balai TNK Dicabut

Legislator asal Rote itu juga memeberikan Solusi Alternatif: Perbanyak Petugas, Bukan Batasi Akses

Usman menilai persoalan utama bukan semata jumlah orang, melainkan pengelolaan.

“Tambah jumlah petugas pengawasan. Perbanyak fasilitas tempat sampah dan sistem pengelolaan limbah. Terapkan zonasi berbasis lokasi (site-based), bukan pembatasan menyeluruh kawasan (area-based). Perkuat koordinasi lintas kementerian sebelum kebijakan diterapkan penuh.”

Baca Juga :  Anggota DPR RI Usman Husin Dukung Percepatan BPKH XIV Kupang Tuntaskan Legalitas Kawasan Hutan NTT

“Presiden memang ingin wisata bersih. Tapi bersih itu soal manajemen, bukan membatasi jumlah manusia,” ujarnya tajam.

Peringatan untuk Evaluasi Total

Usman menegaskan bahwa konservasi dan ekonomi tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan.

Ia meminta agar kebijakan kuota 1.000 orang per hari dikaji ulang sebelum implementasi penuh April 2026.

“Jangan sampai atas nama konservasi, kita menciptakan kemiskinan baru di Manggarai Barat. Rakyat butuh makan. Wisata adalah salah satu sektor yang mengangkat taraf hidup lapisan paling bawah,” pungkasnya.

Baca Juga :  Menteri Perdagangan Meninjau Dua Pasar Di Kupang

Di tengah perdebatan ini, publik kini menunggu: apakah kebijakan kuota akan tetap dijalankan secara kaku, atau dibuka ruang dialog demi menjaga keseimbangan antara alam dan kehidupan ekonomi masyarakat?

  • Bagikan