ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Usman Husin Soroti Pembatasan Wisata di Taman Nasional Komodo, Dinilai Ancam Ekonomi Rakyat

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Usman mengingatkan agar sistem tersebut benar-benar transparan dan tidak membuka celah spekulasi kuota.

Ia juga menyoroti persoalan wisata bahari, khususnya kapal liveaboard (LOB) yang menjual paket perjalanan berbulan-bulan sebelumnya.

Wisatawan LOB menghabiskan sebagian besar waktu di laut, bukan di jalur trekking darat.

Jika tetap dihitung dalam kuota harian yang sama, maka terjadi distorsi karakteristik wisata.

“Harus ada klasterisasi. Pisahkan kuota darat dan laut. Jangan pukul rata,” katanya.

Baca Juga :  Terkait Pembatasan Kuota Wisatawan ke Komodo Usman Husin Minta Dipending, Menhut Raja Juli: Insyaallah Sosialisasi Diperkuat

Legislator asal Rote itu juga memeberikan Solusi Alternatif: Perbanyak Petugas, Bukan Batasi Akses

Usman menilai persoalan utama bukan semata jumlah orang, melainkan pengelolaan.

“Tambah jumlah petugas pengawasan. Perbanyak fasilitas tempat sampah dan sistem pengelolaan limbah. Terapkan zonasi berbasis lokasi (site-based), bukan pembatasan menyeluruh kawasan (area-based). Perkuat koordinasi lintas kementerian sebelum kebijakan diterapkan penuh.”

Baca Juga :  Anggota DPR RI Usman Husin Bantu 50 Ribu Bibit Kopi Untuk Petani Kabupaten Sumba Tengah

“Presiden memang ingin wisata bersih. Tapi bersih itu soal manajemen, bukan membatasi jumlah manusia,” ujarnya tajam.

Peringatan untuk Evaluasi Total

Usman menegaskan bahwa konservasi dan ekonomi tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan.

Ia meminta agar kebijakan kuota 1.000 orang per hari dikaji ulang sebelum implementasi penuh April 2026.

“Jangan sampai atas nama konservasi, kita menciptakan kemiskinan baru di Manggarai Barat. Rakyat butuh makan. Wisata adalah salah satu sektor yang mengangkat taraf hidup lapisan paling bawah,” pungkasnya.

Baca Juga :  Anggota DPR RI Usman Husin SiapPerjuangkan Bantuan Bibit, Hand Traktor, dan Sumur Bor Bagi Warga Desa Naunu

Di tengah perdebatan ini, publik kini menunggu: apakah kebijakan kuota akan tetap dijalankan secara kaku, atau dibuka ruang dialog demi menjaga keseimbangan antara alam dan kehidupan ekonomi masyarakat?

  • Bagikan