ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Terkait Polemik Pembangunan Jembatan Bliko, Anggota DPRD NTT Ana Waha Kolin Tegaskan : Tendernya Sah Sesuai ketentuan

Avatar photo
Editor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Ana menegaskan, “Kenapa saya harus melakukan jumpa pers ini, karena ini daerah dapil saya. Saya juga tidak mau masyarakat saya susah akibat pembangunan yang salah ya. Tetapi sejauh pemantauan saya, mereka sudah melakukan tahapan-tahapan sesuai mekanisme proses kegiatan. Jalan jembatan — artinya jembatan, khususnya Jembatan Bliko

Lebih lanjut Ana merincikan kontrak pembangunan jembatan Bliko ini dimulai pada 12 April 2025 dan saat ini progres fisik telah mencapai 5 persen.

“ Saya tekankan bahwa material on-site tidak boleh dimasukkan dalam perhitungan progres tersebut,” tegas Ana.

Baca Juga :  Selama Libur Nataru Bandara El Tari Layani 7.253 Penumpang

Ia juga meminta agar dalam pelaksanaan pekerjaan, terutama untuk pekerjaan minor, kontraktor wajib melibatkan tenaga kerja lokal.

“Saya tidak membela siapa-siapa, saya berbicara untuk kepentingan masyarakat Bliko. Saya sudah bertemu langsung dengan mereka. Untuk tenaga kerja non-keahlian, harus dari warga lokal. Kalau memang keahlian tertentu tidak tersedia di desa, barulah bisa didatangkan dari luar,” katanya.

Baca Juga :  Wujudkan Transisi Energi di Pelosok Sumba: PLN Percepat Infrastruktur Listrik Desa Waipakolo

Sebagai legislator dari daerah pemilihan Flores Timur, Ana mengaku bertanggung jawab memastikan pembangunan berjalan baik demi kesejahteraan masyarakat. Ia menolak jika proyek tersebut dilaksanakan secara asal-asalan yang justru merugikan masyarakat di dapilnya.

“Saya tidak membela siapa-siapa. Saya hanya ingin memastikan masyarakat saya tidak susah karena pembangunan yang salah. Itu sebabnya saya turun langsung ke lokasi dan melihat sendiri progresnya bersama konsultan pengawas,” ujarnya.

Baca Juga :  PLTD Komodo Uji Coba Insinerator Ramah Lingkungan Untuk Pengelolaan Limbah

Ana juga meminta agar kontraktor pelaksana mengutamakan penggunaan tenaga kerja lokal untuk pekerjaan minor, demi memberdayakan warga setempat. Namun ia juga memahami bahwa untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus, tenaga dari luar daerah masih diperlukan.

“Kita ingin masyarakat lokal dilibatkan sebanyak mungkin. Kalau ada warga yang punya skill, silakan dipakai. Kalau tidak ada, silakan datangkan tenaga ahli demi kualitas konstruksi jembatan,” katanya.

  • Bagikan