“Kalau kita anggap hanya warisan, kadang kita lalai. Tapi kalau kita sadar budaya ini pinjaman dari anak cucu, pasti kita rawat dan lestarikan sebaik-baiknya. Sebab kelak anak cucu akan bertanya: mana budaya yang kami titipkan? Apakah dijaga atau ditinggalkan?” katanya.
Wali Kota Kupang kemudian mengingatkan bahwa perjuangan bangsa hari ini bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan pendidikan, dan ketidakadilan. Ia mengajak semua komunitas untuk bersatu menghadapi tantangan zaman.
“Kalau kita sendiri hanya setetes air, tapi kalau bersama kita bisa jadi samudra luas. Kota Kupang bercahaya hari ini bukan karena obor di Balai Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang dinyalakan oleh keluarga Ngada, Sumba, Alor, Ende, dan komunitas lainnya,” pungkasnya
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










