ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : 

Kisah Seorang Muslim yang Setia Menjadi Pelayan di Gereja Selama 30 Tahun

Avatar photo
Reporter : AVRANDO Editor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

Sejak saat itu, Bardi menjalankan perannya sebagai koster dengan dukungan penuh dari keluarganya.

Bekerja di lingkungan yang berbeda agama, Bardi mengaku tidak pernah merasa terasing. Sebaliknya, hubungan baik antara dirinya dan jemaat gereja terjalin erat.

Saat Lebaran, ia kerap menerima hadiah berupa sarung, sembako, baju, hingga kue kaleng dari jemaat gereja. Begitu pula ketika Natal, jemaat tetap memperhatikan dan menghargainya.

Baca Juga :  The Jerey

“Saya bersyukur, meskipun berbeda keyakinan, mereka tetap peduli. Saya merasa dihargai,” ujar Bardi.

Pendeta Betty Kailola, Ketua Majelis Jemaat GPIB Kharisma, menjelaskan bahwa kehadiran Bardi sebagai koster adalah salah satu bentuk upaya membangun toleransi di tengah keberagaman.

“Pak Bardi juga mendapatkan hari libur khusus setiap Jumat agar bisa menunaikan ibadah salat Jumat. Ini kami berikan sebagai bentuk penghargaan terhadap keyakinannya,” ungkap Pendeta Betty.

Baca Juga :  The Genie Inside Your Smartphone

Bagi Bardi, menjadi koster bukan sekadar pekerjaan. Ia melihat tugas ini sebagai bentuk pelayanan kepada sesama umat manusia.

“Pelayanan bukan hanya di masjid atau rumah. Di gereja pun saya bisa melayani. Walaupun saya Muslim, saya bisa membantu non-Muslim. Rasanya puas,” ujar Bardi

  • Bagikan