Sejak saat itu, Bardi menjalankan perannya sebagai koster dengan dukungan penuh dari keluarganya.
Bekerja di lingkungan yang berbeda agama, Bardi mengaku tidak pernah merasa terasing. Sebaliknya, hubungan baik antara dirinya dan jemaat gereja terjalin erat.
Saat Lebaran, ia kerap menerima hadiah berupa sarung, sembako, baju, hingga kue kaleng dari jemaat gereja. Begitu pula ketika Natal, jemaat tetap memperhatikan dan menghargainya.
“Saya bersyukur, meskipun berbeda keyakinan, mereka tetap peduli. Saya merasa dihargai,” ujar Bardi.
Pendeta Betty Kailola, Ketua Majelis Jemaat GPIB Kharisma, menjelaskan bahwa kehadiran Bardi sebagai koster adalah salah satu bentuk upaya membangun toleransi di tengah keberagaman.
“Pak Bardi juga mendapatkan hari libur khusus setiap Jumat agar bisa menunaikan ibadah salat Jumat. Ini kami berikan sebagai bentuk penghargaan terhadap keyakinannya,” ungkap Pendeta Betty.
Bagi Bardi, menjadi koster bukan sekadar pekerjaan. Ia melihat tugas ini sebagai bentuk pelayanan kepada sesama umat manusia.
“Pelayanan bukan hanya di masjid atau rumah. Di gereja pun saya bisa melayani. Walaupun saya Muslim, saya bisa membantu non-Muslim. Rasanya puas,” ujar Bardi
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











