Saat sesi tanya dari Cagub nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi kepada Melki, Melki justru kembali menyinggung soal dukungan Pemerintah Pusat terhadap pembangunan suatu daerah yang tidak terlepas dari keputusan politik di tingkat pusat.
Dukungan itu tidak hanya faktor pertemanan, dan persahabatan saja, namun dilihat dari masuk tidaknya partai pengusung dalam kabinet di pusat.
“Jadi dukungan dari pusat itu tidak cukup hanya karena teman, tetapi masuk tidaknya partai koalisi kita itu di kabinet kerja Presiden,” tegas Melki.
Setelah adu argumentasi selama 2,5 jam, tiga Paslon itu pun turun dari panggung. Mereka saling menyapa dan saling berpelukan. Debat diakhiri dengan pose bersama, sambil berpegangan tangan, menjadi simbol perdamaian.
Melki Emosi
Melki mengaku cukup emosional mendengar pernyataan Ansy Lema. Harusnya, masyarakat NTT bersyukur jika mereka memimpin NTT maka pasti mendapat banyak dukungan dari pemerintah pusat.
“Terus terang saya cukup emosi dan sedih karena Ansy Lema bicara seperti itu. Harusnya kita bersyukur karena partai koalisi kita dekat dengan Pak Prabowo sehingga nanti bisa mendapat dukungan,” kata Melki saat diwawancara Victory News usai debat.
Ansy Lema dalam sesi wawancara usai debat juga menegaskan, Presiden Prabowo Subianto adalah seorang negarawan yang tidak cawe-cawe dalam Pilkada di Indonesia termasuk Pilkada NTT.
Sehingga, menurut Ansy, tidak boleh ada Calon Kepala Daerah yang mengkerdilkan Presiden Prabowo Subianto untuk kepentingan tertentu. Ia yakin, siapapun Gubernur NTT nanti, sudah pasti mendapat dukungan dari pemerintah pusat.
“Betul, di era kepemimpinan Pak Frans Lebu Ray periode pertama waktu itu Presiden Pak SBY, waktu itu di pusat PDIP tidak berkoalisi dengan Demokrat, tetapi perhatian SBY bagi daerah tidak kurang. Bahkan pernah berkantor empat hari di ruang kerja Pak Frans Lebu Raya, dan kita sudah dengar pidato Pak Prabowo tidak akan cawe-cawe dengan Pilkada,” ujarnya.
Ansy juga mengklaim dekat dengan keponakan Presiden Prabowo, Budisatrio Djiwandono. Sehingga dari mulutnya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo itu seorang negarawan, jika dirinya terpilih bakal dibawa untuk bertemu Presiden Prabowo.
“Pak Budisatrio Djiwandono bilang kalau Kaka Ansy yang terpilih saya akan tenteng kamu ketemu om saya pak Presiden Prabowo,” ujarnya.**
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











