“Artinya, kepercayaan itu mulai tumbuh kembali. Tapi kami tidak bisa memaksakan. Anak-anak juga manusia, mereka punya cara berpikir sendiri. Tugas kami adalah menciptakan rasa aman,” tambah Ferderik.
Koordinasi Intensif dengan Penyedia MBG
Ferderik juga menjelaskan bahwa pihak penyedia makanan, dalam hal ini MBG, turut hadir ke sekolah untuk berdialog dan menyampaikan permohonan maaf atas kekhawatiran yang muncul. Meski belum ada bukti kuat bahwa makanan dari MBG menjadi penyebab insiden di SMPN 8, langkah antisipasi tetap diambil.
“Kami terus berkoordinasi. Penyedia makanan juga sudah menyampaikan, jika ada nasi, lauk, atau sayur yang rusak, mereka siap menggantinya. Mereka fleksibel dan terbuka,” katanya.
Sebagai tindakan pencegahan, sekolah juga kini menerapkan sistem penyajian sampel makanan terlebih dahulu—diambil dari bagian tengah wadah makanan, bukan atas atau bawah—guna menghindari bagian yang mungkin kurang layak konsumsi.
Evaluasi dan Pengawasan Terus Berjalan
Dinas Pendidikan Kota Kupang disebut telah memberikan arahan untuk meminimalkan kejadian serupa. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah pembatasan konsumsi makanan di area kelas bawah dan atas secara bergiliran, untuk menjaga ketertiban dan kebersihan.
“Kami berharap ini menjadi pembelajaran. Baik untuk sekolah, penyedia makanan, maupun orang tua siswa. Tujuan program makan gratis ini mulia. Mari kita jaga bersama agar tidak ternoda oleh kelalaian atau misinformasi,” tutup Ferderik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











