Menurut Raja Juli Antoni, keberadaan persemaian tidak hanya penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan bibit tanaman produktif.
“Program penghijauan tidak hanya berbicara tentang menanam pohon, tetapi juga membangun masa depan lingkungan yang lebih baik sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Kepala BPDAS Benain Noelmina, Kludolfus Tuames, SP, mengatakan Persemaian Permanen Fatukoa terus dijaga sebagai pusat penyedia bibit berkualitas sekaligus pusat edukasi bagi masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan kelompok tani hutan.
“Kami terus memastikan kualitas bibit tetap terjaga sejak proses pembenihan hingga siap ditanam. Harapannya, bibit yang didistribusikan memiliki tingkat keberhasilan hidup yang tinggi sehingga mampu mempercepat pemulihan lahan kritis di NTT,” ujar Kludolfus.
Ia menambahkan, keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan tidak hanya bergantung pada ketersediaan bibit, tetapi juga membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, kelompok tani hutan, dan seluruh pemangku kepentingan agar gerakan penghijauan berjalan secara berkelanjutan.
Saat ini Kementerian Kehutanan mengelola lebih dari 5 juta bibit yang tersebar di 55 persemaian aktif pada 34 provinsi di bawah pembinaan 37 Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS). Seluruh fasilitas tersebut disiapkan untuk memastikan kebutuhan bibit dalam program penghijauan nasional dapat terpenuhi secara cepat, termasuk bagi wilayah Nusa Tenggara Timur.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











