“ Kami juga bukan hanya bentangkan bendera RMS di hadapan Paus dan stafnya. Kami juga kirim petisi ke sejumlah parlemen negara yang selama ini peduli membantu perjuangan RMS di Indonesia. Semoga kiat kami ini diamini Tuhan melalui Paus ,” sebut Joao de Jesus Saldana
Lebih lanjut dia menyebutkan juga diantara sesama aktivis ini ada anggota yang turunan dari Maluku dan keluarganya menjadi perintis berdirinya RMS kala itu.
“ Anggota aktivis kami di Timor Leste ini ada juga yang berdarah Maluku, turunan ketiga dari marga Nanlohy, Matulesi, Manuputy dan Watimena dari rang nenek mereka,” ungkap Joao de Jesus Saldana.
Sementara itu aktivis yang selama ini memperjuangkan nasib RMS di Indonesia khususnya Maluku, John Koisina mengapresiasi kelompok aktivis di Timor Leste.
“ Pada point pertama kami apresiasi dan terima kasih kepada sesama saudara kami di Timor Leste yang begitu peduli perjuangkan nasib RMS yang sudah dicaplok Indonesia. Semoga Paus sebagai pemimpin umat dunia mendengar aspirasi tersebut ,” kata John Koisina.
Untuk diketahui Republik Maluku Selatan (RMS) diproklamirkan empat bulan setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, tepatnya pada 25 April 1950. Republik Maluku Selatan yang bertujuan untuk memisahkan diri dari pemerintahan yang sah atau melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Gerakan RMS dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam NIT, di bawah kepemimpinan Ir. J. A. Manumasa, Mr. Dr. Chr. Soumokil, sekelompok raja, serta pejabat lokal termasuk Kepala Daerah Maluku Selatan J.H. Manuhutu.
Ir. J.A. Manumasa memiliki peran penting, terutama dalam upaya merealisasikan pemerintahan RMS. Selain menjadi ujung tombak dalam menggalang kekuatan militer dari unsur KNIL sebagai kekuatan inti Angkatan Perang RMS, ia juga melakukan konsolidasi dengan pemerintah daerah.
Ketika Kepala Daerah J.H. Manuhutu dan Wakil Ketua Dewan Maluku Selatan Albert Wairisal pada awalnya tidak menyetujui pendirian RMS di wilayahnya, Manumasa merespon ketidaksetujuan Manuhutu dan Wairisal dengan menyelenggarakan kongres kilat dan menghasilkan keputusan mengenai pemerintahan RMS yang dipimpin oleh seorang presiden (kepala negara) dan 12 kepala departemen (menteri). Pada kongres tersebut, Manuhutu diangkat menjadi presiden dan Wairisal menjabat sebagai Menteri Pertahanan
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











