ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Ternyata Bendera Republik Maluku Selatan Ikut Mewarnai Misa Paus Fransiskus di Tasitolu Dili

Avatar photo
Reporter : AVRANDO Editor: ANTON TAOLIN
  • Bagikan

“ Kami juga bukan hanya bentangkan bendera RMS di hadapan Paus dan stafnya. Kami juga kirim petisi ke sejumlah parlemen negara yang selama ini peduli membantu perjuangan RMS di Indonesia. Semoga kiat kami ini diamini Tuhan melalui Paus ,” sebut Joao de Jesus Saldana

Lebih lanjut dia menyebutkan juga diantara sesama aktivis ini ada anggota yang turunan dari Maluku dan keluarganya menjadi perintis berdirinya RMS kala itu.

“ Anggota aktivis kami di Timor Leste ini ada juga yang berdarah Maluku, turunan ketiga dari marga Nanlohy, Matulesi, Manuputy dan Watimena dari rang nenek mereka,” ungkap Joao de Jesus Saldana.

Baca Juga :  Mengabdi Bagi Masyarakat, Ziarah Hidup Seorang Willy Lay

Sementara itu aktivis yang selama ini memperjuangkan nasib RMS di Indonesia khususnya Maluku, John Koisina mengapresiasi kelompok aktivis di Timor Leste.

“ Pada point pertama kami apresiasi dan terima kasih kepada sesama saudara kami di Timor Leste yang begitu peduli perjuangkan nasib RMS yang sudah dicaplok Indonesia. Semoga Paus sebagai pemimpin umat dunia mendengar aspirasi tersebut ,” kata John Koisina.

Untuk diketahui Republik Maluku Selatan (RMS) diproklamirkan empat bulan setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, tepatnya pada 25 April 1950. Republik Maluku Selatan yang bertujuan untuk memisahkan diri dari pemerintahan yang sah atau melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Baca Juga :  TPNPB OPM Apresiasi Seratus Umat Katolik Timor Leste Ikut Missa Paus di Dili Bawa Bendera Bintang Kejora

Gerakan RMS dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam NIT, di bawah kepemimpinan Ir. J. A. Manumasa, Mr. Dr. Chr. Soumokil, sekelompok raja, serta pejabat lokal termasuk Kepala Daerah Maluku Selatan J.H. Manuhutu.

Ir. J.A. Manumasa memiliki peran penting, terutama dalam upaya merealisasikan pemerintahan RMS. Selain menjadi ujung tombak dalam menggalang kekuatan militer dari unsur KNIL sebagai kekuatan inti Angkatan Perang RMS, ia juga melakukan konsolidasi dengan pemerintah daerah.

Baca Juga :  Bendera Bintang Kejora, Sambut Paus di Dili, TPNPB OPM Apresiasi dan Terima Kasih

Ketika Kepala Daerah J.H. Manuhutu dan Wakil Ketua Dewan Maluku Selatan Albert Wairisal pada awalnya tidak menyetujui pendirian RMS di wilayahnya, Manumasa merespon ketidaksetujuan Manuhutu dan Wairisal dengan menyelenggarakan kongres kilat dan menghasilkan keputusan mengenai pemerintahan RMS yang dipimpin oleh seorang presiden (kepala negara) dan 12 kepala departemen (menteri). Pada kongres tersebut, Manuhutu diangkat menjadi presiden dan Wairisal menjabat sebagai Menteri Pertahanan

  • Bagikan