Pemkab Kupang juga menyiapkan dukungan lanjutan berupa 5 ton bibit jagung dan mesin pompa air untuk kelompok tani. Bantuan tersebut diarahkan untuk menjaga kesinambungan produksi, terutama menghadapi musim dengan ketersediaan air yang terbatas.
Di balik capaian panen tersebut terdapat penggunaan jagung varietas Pertiwi 3. Marketing Executive NTT PT Agri Makmur Pertiwi, Erwin Priyambudi, mengatakan varietas itu dikembangkan untuk wilayah yang menghadapi persoalan kekurangan air.
“Varietas Jagung Pertiwi 3 ini kami kenalkan khusus untuk daerah yang kekurangan air, khususnya di wilayah NTT. Harganya murah dan terjangkau, tetapi mampu menghasilkan panen yang luar biasa,” ujar Erwin.
PT Agri Makmur Pertiwi sebelumnya telah menyalurkan sekitar 200 kilogram benih jagung kepada kelompok tani. Sekitar 50 kilogram digunakan untuk demplot sebagai pembuktian performa benih sebelum dikembangkan lebih luas.
Erwin mengatakan pihak swasta ingin mengambil bagian dalam mendorong produktivitas pertanian daerah melalui penyediaan benih dan dukungan terhadap program pemerintah.
“Kami ingin membuktikan bahwa pihak swasta juga dapat berkontribusi aktif dan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kupang dalam meningkatkan hasil pertanian menuju pencapaian swasembada pangan di daerah ini,” katanya.
Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Mesak Mbura, meminta petani tidak kehilangan semangat setelah panen. Menurutnya, keberhasilan di Pantulan harus dijaga melalui kerja bersama antara kelompok tani, pemerintah desa, PPL dan seluruh pihak terkait.
“Kita berharap kelompok tani ini tetap bersemangat. Kepala Desa, PPL, dan semua pihak yang terlibat dapat terus berkolaborasi dan bekerja sama untuk memberikan dukungan nyata kepada masyarakat agar terus bekerja dengan luar biasa,” ujar Mesak.
Setelah jagung MT 2 selesai dipanen, petani Pantulan sudah menyiapkan langkah berikutnya. Mereka akan memasuki MT 3 dengan komoditas kacang hijau, sehingga lahan tetap produktif dan tidak dibiarkan menganggur.
Panen di Pantulan akhirnya menghadirkan cerita yang lebih besar dari sekadar angka produksi: petani menghadapi keterbatasan air, berhasil mencapai hingga 10 ton per hektare, mendapatkan harga Rp7.000 per kilogram, dan kini bersiap melanjutkan produksi pada musim tanam berikutnya
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











