“Tagepe ini sebenarnya layout-nya sudah bagus. Tinggal bagaimana kita menciptakan aktivitas baru yang bisa kita optimalkan di sini,” jelasnya.
Namun demikian, Serena menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang tidak ingin mengambil kebijakan secara sepihak tanpa mendengar aspirasi masyarakat sekitar. Karena itu, pendekatan yang digunakan adalah partisipatif dengan mengedepankan respons warga sebelum konsep tersebut dijalankan.
“Kita masih lihat dulu respon dari masyarakat sekitar. Karena kita mau buat kebijakan itu harus melihat respon masyarakat dulu. Jadi bottom to top. Jangan target dari pemerintah langsung kita hajar ke bawah saja. Kalau masyarakat approve, baru kita implementasikan,” tegasnya.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Kupang menghadirkan ruang publik yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga hidup sebagai pusat interaksi sosial, kreativitas, dan pengembangan potensi masyarakat. Dengan konsep baru tersebut, Tagepe diharapkan tidak sekadar menjadi taman kota biasa, tetapi bertumbuh menjadi ruang budaya dan kreativitas yang memberi warna baru bagi wajah Kota Kupang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











