Lebih lanjut, ia menyinggung pelaksanaan Pawai Paskah yang akan digelar keesokan harinya sebagai wujud kebersamaan dan toleransi masyarakat Kota Kupang. Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan umat Kristiani, tetapi juga mendapat partisipasi dan antusiasme dari berbagai elemen masyarakat lintas agama.
Serena juga mencontohkan suasana kebersamaan yang terjalin saat bulan Ramadan, di mana masyarakat lintas agama turut meramaikan tradisi berburu takjil. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa Kota Kupang adalah kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kerukunan.
“Kota Kupang adalah Kota Kasih, rumah bersama yang penuh toleransi. Ini terbukti dengan capaian kita yang dalam satu dekade terakhir terus meraih penghargaan sebagai kota toleran di Indonesia,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kondisi sosial, khususnya terkait isu perlindungan anak dan kesehatan mental generasi muda. Ia mengajak gereja untuk turut berperan aktif dalam membina dan menjaga nilai-nilai moral di tengah masyarakat.
Mengakhiri sambutannya, Wakil Wali Kota mengajak seluruh jemaat dan masyarakat Kota Kupang untuk terus menjaga keberagaman sebagai anugerah yang memperkaya kehidupan bersama, serta memperkuat semangat persaudaraan dalam bingkai Kota Kasih.
Sementara itu, suara gembala jemaat, Pdt. Desiana Rondo Effendy, S.Th., M.Th., menegaskan bahwa momentum Paskah dan ulang tahun ke-28 jemaat merupakan titik iman yang penting, yakni perjumpaan antara salib dan kebangkitan, antara pergumulan dan pengharapan. Ia mengingatkan bahwa kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa, tetapi dasar iman yang mengubah cara pandang umat dalam menjalani kehidupan.
Ia juga menekankan bahwa perjalanan 28 tahun jemaat bukanlah proses yang mudah, melainkan penuh dinamika pergumulan, tantangan pelayanan, serta upaya membangun kehidupan bergereja di tengah keterbatasan. Namun demikian, Paskah mengajarkan bahwa tidak ada pergumulan yang sia-sia, tidak ada pelayanan yang dilupakan Tuhan, dan tidak ada air mata yang luput dari perhatian-Nya.
Lebih lanjut, ia mengajak jemaat untuk menjadikan usia ke-28 sebagai momentum bertumbuh menjadi gereja yang berdampak dari sekadar bertahan menjadi mengutus, dari melayani menjadi membangun generasi. Ia juga menyampaikan bahwa gereja akan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk melalui peluncuran website jemaat sebagai bagian dari pemanfaatan teknologi untuk memperluas pelayanan dan dampak gereja bagi masyarakat luas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











