Dia berharap, pembahasan dana yang dilaksanakan hari ini bisa memberikan dampak positif bagi pembangunan infrastruktur di NTT.
Terkait masalah longsor Junto juga menjelaskan, di tahun 2025 ini, sedikitnya ada delapan (8) titik longsor di daratan Pulau Timor, khususnya Atambua, akibat dari cuaca yang tidak bersahabat.
“Untuk tahun 2025 ini, ada delapan titik longsor di Pulau Timor khususnya di Atambua. Longsor ini terjadi akibat cuaca yang tidak bersahabat di Tahun 2025,” kata Agustinus Junianto.
Selain di Pulau Timor, sebut dia, longsor juga terjadi di Pulau Flores khususnya di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), merupakan akses jalan provinsi.
“Kita sudah usulkan ke pusat agar longsor akibat cuaca buruk segera disetujui untuk secepatnya dilakukan perbaikan oleh BPJN,” tegasnya.
Jembatan Oesapa Ditunda
Kepala BPJN NTT juga memastikan bahwa akibat efisiensi anggaran, pembangunan Jembatan Oesapa di Kota Kupang ditunda ke tahun 2026 karena adanya efisiensi anggaran.
“Saya berharap jembatan Oesapa bisa dikerjakan tahun ini, namun karena efisiensi anggaran sehingga ditunda lagi ke tahun 2026,” kata Agustinus.
Menurut dia, proyek penggantian Jembatan Oesapa menjadi prioritas karena kondisi jembatan lama sudah tidak layak digunakan. Jembatan baru yang direncanakan memiliki panjang 40 meter dan lebar 10 meter, dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp 46 miliar.
Dia juga menjelaskan, BPJN NTT hanya bertanggung jawab atas infrastruktur jalan dan jembatan nasional, sementara infrastruktur di tingkat provinsi dan kabupaten/kota menjadi kewenangan pemerintah daerah masing-masing.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











