ATAMBUA, fokusnusatenggara.com — Aksi tak terduga kembali dilakukan oleh CV, oknum seorang dokter yang saat ini diketahui bertugas Puskesmas Atapupu Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu, Provinsi NTT terhadap seorang mahasiswi magang sebut saja Bunga (nama samaran). Kebetulan mahasiswi ini juga sementara magang di Puskesmas yang dipimpin dokter ini
Oknum dokter itu memaksa mahasiswi magang itu untuk melakukan panggilan WhatsApp Video Call (VC) dewasa melalui untuk melakukan untuk memenuhi hasratnya. Selain minta VC dewasa, ada juga chatingan yang beraroma mesum.
Sesuai tangkapan layar yang ada di hasil Screenshot berdasarkan hasil chatingan yang beredar, sang dokter tersebut ingin sekali memaksa Mahasiswi Magang itu untuk turuti kemauannya.
Selain itu, nampak dalam tangkapan layar dari chatingan itu dokter tersebut merayu dan bahkan mengajak untuk hal tak senonoh melalui sebuah aplikasi WA bersama mahasiswa magang itu. Chatingan antara dokter berinisial CV dan mahasiswi magang tersebut sudah beredar di mana mana.
Percakapan antara dokter CV dan mahasiswi tersebut yang diterima awak media, Selasa (23/12) menunjukkan adanya tekanan dari dokter terhadap mahasiswi perawat itu.
Menyimak Isi chat pelecahan dalam percakapan tersebut, CV bahkan mengklaim bahwa perawat adalah “makanan dokter” dan menyebutnya sebagai aturan di rumah sakit.
Selain memaksa mahasiswi untuk melakukan tindakan tidak senonoh, CV juga meminta korban untuk mengirimkan foto tanpa busana.
Percakapan tersebut juga menunjukkan bagaimana CV tampaknya merasa memiliki kuasa di rumah sakit tempatnya bekerja.
Menyikapi ini AL ayah mahasiswi magang ini berusaha menghubungi pelaku untuk mengonfirmasi kebenaran cerita anaknya. Namun, pelaku tidak menunjukkan itikad baik.
“Dia sempat menjawab telepon saya. Tapi setelah saya menanyakan terkait hal itu ke dokter dan menyampaikan bahwa saya adalah ayah korban, dia langsung memutus sambungan telepon,” jelas AL.
Dia menyebutkan oknum dokter ini telah mengganggu korban, anaknya sejak 14 November 2024 dan melakukan teror untuk kedua kalinya di bulan yang sama.
“Anak saya menelepon sambil menangis dan menceritakan kejadian ini. Oknum dokter kembali mengancam dan memaksa anak saya, padahal kejadian serupa sudah pernah terjadi sebelumnya,” ujar AL seperti dilansir batastimor.com.
Ia juga menyampaikan, selama ini keluarga menunggu itikad baik dari dokter itu, tetapi hingga kini tidak ada langkah apapun dari pihak pelaku.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











