“Progres di Kota Kupang sekitar 15 persen, sedangkan di Malaka sekitar 10 persen,” jelas Djoni.
Di Kabupaten Malaka, pengeboran pada salah satu titik telah menghasilkan debit air sekitar lima liter per detik. Setelah pekerjaan tersebut selesai, tim langsung melakukan mobilisasi menuju titik pembangunan berikutnya.
Djoni optimistis tiga paket pekerjaan JIAT tersebut dapat diselesaikan lebih cepat, yakni pada Oktober 2026, meskipun batas akhir pelaksanaan program ditetapkan hingga Desember 2026.
Naioni menjadi salah satu kawasan yang diprioritaskan karena lahan pertaniannya kerap menghadapi persoalan kekurangan air saat kemarau. Sekitar 2,4 hektare lahan pertanian di kawasan tersebut selama ini terdampak keterbatasan pasokan air.
“Kalau potensi airnya kurang, mungkin akan dibantu lagi. Harapannya masyarakat dapat memanfaatkan dengan baik karena sekarang sudah ada air,” katanya.
Menurut Djoni, potensi air tanah dari jaringan tersebut bahkan diperkirakan mampu mendukung pengairan hingga sekitar 10 hektare lahan pertanian. Namun, infrastruktur air tersebut perlu diikuti pengelolaan yang tepat agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani.
“Kami hanya menyediakan infrastrukturnya. Kalau ada pendampingan dari pemerintah pertanian akan lebih bagus supaya pemanfaatan air ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat,” pungkasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











