“Saya sebenarnya sangat berharap Bapak Raja bisa hadir mengikuti festival tersebut. Namun, bagaimana lagi, kegiatan itu bertepatan dengan seremoni atau ritual yang berkaitan dengan ritual para raja di Timor Barat,” ujar Espedito.
Espedito menegaskan bahwa dirinya memahami posisi ritual adat yang memiliki waktu dan ketentuan tersendiri. Karena itu, ketidakhadiran Yoseph tidak dipandang sebagai bentuk penolakan terhadap kegiatan Festival Lintas Batas.
Sebaliknya, ia berjanji meneruskan permohonan maaf tersebut kepada panitia serta Sekretaris Negara Urusan Seni dan Budaya Timor-Leste. Harapannya, komunikasi budaya kedua pihak tetap berjalan meski Yoseph tidak dapat hadir secara langsung dalam festival tahun ini.
Di balik pertemuan tersebut tersimpan potensi besar. Adat, kain tenun, ritual, sejarah kekerabatan, dan tradisi masyarakat Timor dapat menjadi kekuatan diplomasi budaya sekaligus membuka ruang pengembangan pariwisata lintas batas.
Namun, kekayaan adat itu tidak boleh berhenti sebagai tontonan. Nilai sakral, martabat pemangku adat, dan hak masyarakat adat harus tetap menjadi dasar ketika tradisi diperkenalkan dalam ruang publik maupun pariwisata.
Pertemuan di Kupang akhirnya menyampaikan satu pesan kuat: batas negara boleh membelah Pulau Timor, tetapi sejarah, kekerabatan, adat, dan budaya masyarakatnya tetap memiliki ruang untuk menyatukan.
Espedito berharap komunikasi serta pertukaran budaya Indonesia dan Timor-Leste terus diperkuat. Festival lintas batas pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi ruang berkelanjutan untuk merawat perdamaian dan persaudaraan masyarakat Timor
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











